Pages

Selasa, 01 November 2011

CERPEN


Perbedaan antar Cinta dan Nafsu
Cinta dan nafsu terkadang sulit untuk di bedakan. Hal ini dikarenakan oleh keterkaitan dua hal tersebut dengan emosi dan perasaan. Cinta sangat melekat dengan perasaan individual sedangkan nafsu lebih menekankan pada kehendak yang kuat. Namun bukan berarti cinta dan nafsu tidak dapat dibedakan.

Perbedaan antar cinta dan nafsu terlihat pada tindakannya. Ketika seseorang benar-benar mencintai pasangannya maka seharusnya hanya ada satu benak saja dalam pikirannya yaitu bagaimana caranya agar saya menunjukkan rasa cinta saya dengan memberikan yang terbaik bagi pasangan saya,? Bukan, bagaimana caranya agar dia memuaskan ‘nafsu’ saya?.

Masa awal pacaran merupakan masa penjajakan dan masa yang paling indah. Di sinilah cinta dan nafsu tersamar dengan baik. Jika memang ia mencintai pasangannya, tentu hal-hal yang berbau nafsu agak canggung untuk dilakukan. Pasangan yang baik tidak akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan pasangannya apalagi membujuk pasangannya untuk memenuhi nafsunya. Namun jika memang tujuan awal berpacaran adalah nafsu maka tidak ada cinta yang sesungguhnya di antara mereka melainkan hanya ada apa yang di kenal dengan ‘cinta satu malam’.

Perbedaan antar cinta dan nafsu terletak pada pikiran pasangan anda. Berpacaran bukan berarti tidak diperkenankan tidakan fisik melainkan atas dasar apa tindakan fisik yang wajar tersebut di lakukan. Sebagai contohnya adalah ketika pasangan anda memeluk anda, ada dua hal yang terbesit dalam pikiran pasangan anda. Yang pertama, ia memeluk karena ia ingin memberikan rasa nyaman dan melindungi anda atau ia memeluk anda sembari membayangkan strategi berikutnya apa? Jika memang cinta maka ia sangat mengetahui sampai sejauh mana anda pantas diperlakukan dan ketika anda menolak tentu saja ia harus menghargainya. Namun jika pasangan anda menjadi marah atau emosi maka tentu saja yang ia pikirkan adalah nafsu bukan cinta.
Cinta memikirkan konsekuensi sedangkan nafsu tidak memikirkan akibat dari tindakannya. Jika memang atas nama cinta pikirkanlah dengan baik apa konsekuensinya yang terburuk dan pikirkan juga apakah anda rela untuk memberikan konsekuensi itu kepada pasangan yang anda cintai. Jika anda rela memberikan konsekuensi itu kepada pasangan anda maka anda hanya bernafsu dan tidak mencintai. Jika memang atas nama cinta maka ia akan mempersiapkan hal-hal yang diperlukan agar nafsu itu menjadi indah pada waktunya yaitu misalnya pada saat menikah nanti. Hal ini terwujud dalam tindakan pasangan anda yang mempersiapkan hal-hal di masa mendatang agar dapat menjadi pasangan hidup yang saling mencintai dan langeng. Di sinilah cinta dan nafsu di pisahkan.

Dalam pernikahan, terutama pernikahan yang langgeng, cinta dan nafsu dapat dengan mudah di bedakan. Siapakah yang secara umum dapat bernafsu ketika melihat pasangannya yang sudah keriput, ompong, ubanan, bergelambir dan sebagainya? Tentu saja yang masih bisa bernafsu adalah pasangan yang mencintainya, yang menerima dia karena dirinya bukan karena kepuasan semata.

Cinta dan nafsu adalah dua hal yang sangat berbeda namun saling berkaitan. Cinta sejati memberikan amunisi bagi nafsu namun nafsu tidak penah memberikan amunisi bagi cinta. Cinta yang baik membawa bahagia dan suka cita yang berkepanjangan sedangkan nafsu membawa bahagia dan suka cita yang singkat.


Cowok Idaman

Vina senang sekali Arif datang ke rumahnya. Cowok yang sudah lama ditaksirnya itu datang untuk mengerjakan tugas kelompok dari guru Bahasa Indonesia mereka. Tentu saja Arif tidak datang sendiri, tapi bersama-sama teman sekelas lainnya. Walau begitu Vina tetap senang, paling tidak cowok keren itu kini tahu alamat rumahnya.
Setalah dua jam lebih membuat tugas naskah drama, Vina dan teman-temannya bersantai di teras depan. Vina memberi teman-temannya itu kue-kue kering dan sirup dingin.

“Wah, nggak usah repot-repot Vin,” kata Andi. Tapi ketika ia berkata itu tangannya sudah menyerobot mengambil segelas sirup dan langsung meminumnya hingga tingal separuh.
“Iya Vin, nggak usah repot-repot.... keluarkan saja semuanya,” sahut Boni menyambung canda temannya. Ia pun mengambil segelas sirup.

“Ah, kalian ini bikin malu saja,” gerutu Neni melihat tingkah keduanya.
Vina tidak menanggapi kelakar dua badut kelas mereka itu. Ia malah memperhatikan Arif yang dari tadi diam saja. Cowok ini memang tidak banyak bicara, kesan cool begitu. Inilah yang membuat banyak cewek yang naksir, termasuk Vina.


“Ayo Rif, diminum,” kata Vina menyodorkan segelas sirup pada Arif.
“Wah, cuma Arif aja nih yang ditawarin minum,” goda Andi.
“Kalo kamu kan nggak perlu ditawarin udah langsung ambil sendiri, Ndi,” sahut Vina sewot.
“Maklum deh Vin. Andi kan cemburu tuh,” Boni ikut nimbrung.
Wajah Andi bersemu merah karena kata-kata Boni. Tak terdengar lagi suaranya. Memang selama ini ia diam-diam menaruh hati pada Vina.

Sedang asik kelimanya menikmati kue-kue kering sisa lebaran kemarin dan sirup dingin, seekor kucing gendut keluar dari dalam rumah.
“Sini manis,” pangil Vina melihat hewan peliharaannya datang.
Manis menurut dan berjalan ke arah Vina, lalu tidur di pangkuan tuannya. Vina mengelus-elus kucing kesayangannya itu.

“Gemuk sekali kucingmu Vin,” kata Neni.
“Iya..... mirip....,” sahut Boni sengaja menggantung kata-katanya.
“Kamu ini Bon, suka sekali mengejek Rina gendut. Biar jelek-jelek gitu kan dia teman kita juga,” sambung Andi.

“Jangan nuduh sembarangan dong Ndi. Aku mau bilang mirip Garfield kog,” bantah Boni.
Vina dan Neni tertawa dibuatnya. Arif pun terlihat tersenyum sedikit. Vina yang sempat melihat sekilas langsung terpikat. Tambah keren saja kalau dia tersenyum begitu pikirnya.
“Si Manis gendut begini lagi hamil,” jelas Vina akhirnya.
“Nah, kali ini kamu nggak bisa mungkir lagi Bon. Ayo tanggung jawab,” langsung saja Andi bersuara, takut didahului Boni.

“Enak aja. Masak aku yang bertangungjawab, kamu kan juga terlibat,” balas Boni.
Kembali Vina dan Neni tertawa, kali ini lebih keras. Arif yang tadinya hanya tersenyum, kini ikut tertawa kecil hingga gigi-giginya yang putih terlihat. Duh kerennya, gumam Vina dalam hati.

***

Dua minggu kemudian Arif kembali datang ke rumah Vina. Kali ini cowok itu datang sendiri dan bukan karena ada tugas kelompok. Katanya sih mau meminjam catatan fisika Vina.
Mula-mula Vina heran, karena biasanya teman-teman sekelas selalau meminjam catatan pada Irma, yang rajin mencatat bahan pelajaran. Makanya kemudian dia mulai menduga-duga, jangan-jangan Arif naksir aku ya? Vina jadi ge-er sendiri.

“Ini catatannya Rif,” kata Vina menyerahkan buku tulis yang bersampul pink itu pada Arif. Arif menerimanya dan membolak-balik isinya.
“Bisa kebaca nggak? Maklum tulisan dokter,” canda Vina lagi.
“Kebaca kog, tulisanmu lebih mending daripada tulisanku. Tulisanku malah mirip tulisan dokter hewan, jadi kayak cakar ayam,” sahut Arif.
Vina tertawa mendengar canda Arif. Ternyata kalau hanya berdua saja, cowok ini bisa juga melucu.
“Si Manis mana Vin?”

“Oh, tadi kayaknya lagi tiduran di belakang rumah. Kenapa? Kangen?”
“He... he.... kangen juga dikit. Kapan melahirkannya? Udah tau mau dibawa ke rumah sakit mana?”

“Sekitar dua minggu lagi. Belum tau mau melahirkan di rumah sakit mana. Punya saran nggak? Kamu kan dokter hewan Rif,” Vina membalas canda Arif.
Senang sekali Vina, ternyata Arif tidak ‘sedingin’ yang terlihat selama ini.
“Nanti aku kasih alamat praktekku deh,” jawab Arif dengan tampang sok serius. Vina tertawa dan Arif pun terlihat ceria. Kemudian keduanya terlihat aik ngobrol dan sesekali diiringi suara tawa.

***

Sepuluh hari kemudian Si Manis melahirkan. Ada tiga anaknya. Yang pertama berbulu coklat dan putih mirip ibunya, yang satu lagi hitam dan putih, dan yang terakhir (menurut Vina yang paling imut) bulunya terdiri dari tiga warna yaitu coklat, hitam dan putih.
Keesokan harinya segera saja berita itu diberitahukannya pada Arif.
“Rif, Si Manis sudah melahirkan.”

“Berapa ekor anaknya?” tanya Arif terlihat antusias.
“Tiga ekor, lucu-lucu deh Rif. Imut-imut banget.”
“Kapan aku boleh bezuk, penasaran juga liat anak Si Manis. Mirip Andi atau Boni ya?”
Sore harinya yang telah dijanjikan, Arif datang ke rumah Vina. Kali ini ia membawa sebatang coklat.
“Buat Si Manis,” begitu kata Arif.
“Duh, Si Manis nggak suka coklat Rif.”
“Kalo begitu buat tuan aja deh.”

Vina tertawa sambil menarik Arif ke dalam rumah dan membawanya ke tempat Si Manis dan anak-anaknya berada. Anak-anak kucing itu ternyata lagi menyusu pada induknya.
“Lucu-lucu kan Rif?”

“Iya, imut-imut sekali. Sayang nggak kelihatan wajahnya, jadi nggak kelihatan mirip Andi atau Boni.”
“Ah, kamu ini bercanda melulu,” kata Vina seraya mencubit lengan Arif dengan gemas.
“Duh,” Arif mengaduh dan coba balas mencubit, tapi Vina cepat-cepat menghindar. Keduanya kemudian tertawa, terlihat akrab sekali.

***

Sebulan kemudian. Sehabis magrib, Vina terlihat berdan habis-habisan di kamarnya. Kamar yang bisanya rapi itu kini jadi berantakan, kata orang dulu sih mirip kapal pecah. Pakaian-pakaian yang sudah dicobanya berserakan di lantai dan tempat tidur. Ada apa rupanya?

Oh... oh ternyata ‘pangeran’nya mau datang malam ini. Pangeran? Ya, siapa lagi kalau bukan Arif. Walaupun bukan malam minggu, tapi ini pertama kalinya Arif datang malam hari ke rumah Vina. Biasanya cowok itu selalu datang sore hari. Jadi harus disambut dengan berpenampilan sebaik mungkin, begitu pikir Vina.
Ketika asik berdandan di depan cermin, terdengar bel berbunyi.

Ting .....tong ...... ting ...... tong....
Vina mendengar langkah kaki dan kemudian suara ibunya yang membukakan pintu. Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk.

“Vin, ada temanmu datang,” beritahu ibu dari balik pintu.
“Ya Bu. Sebentar,” sahut Vina dengan suara agak keras.
Sebelum keluar dari kamar, sekali lagi Vina memastikan penampilannya. Setelah yakin sudah sempurna barulah ia membuka pintu dan melangkah ke teras depan. Di sana Arif sudah menunggu. Cowok itu terlihat gagah dengan jaket kulit hitam yang dikenakannya. Di balik jaket itu ia mengenakan kemeja biru, senada dengan warna celana jeans yang dipakainya.

“Hai Rif,” sapa Vina.
“Hai,” sahut Arif.

“Mau kemana Vin, rapi sekali?” tanyanya.
“Ah, nggak kemana-mana,” jawab Vina salah tingkah.
“Sebentar ya, aku ambilkan minuman dulu,” kata Vina lagi untuk menutupi rasa ‘salting’-nya itu.

Sekitar sepuluh menit Vina kembali dengan membawa suguhan. Kali ini agak istimewa, bukan kue kering yang dibawanya melainkan sepotong kue tart dan segelas sirup dingin.

“Wah, siapa yang ulang tahun nih, Vin?”

“Ah, nggak ada. Cuma lagi iseng aja belajar buat kue tart. Cobain deh Rif, mudah-mudahan enak, maklum baru belajar.”

“Hm, enak Vin,” puji Arif setelah mencicipi kue tart buatan Vina.
Vina jadi berbunga-bunga hatinya mendengar pujian sang cowok idaman.
Seperti biasa kalau keduanya bertemu, obrolanpun mengalir begitu saja. Mulai dari kisah-kisah sekolah, gosip selebritis hingga masalah dunia mereka bicarakan. Sampai suatu ketika Arif terlihat ingin mengatakan sesuatu.

“Vin, aku mau ngomong nih sama kamu,” ujar Arif.
Melihat perubahan sikap Arif yang mendadak serius, Vina jadi menduga-duga dalam hati. Mungkinkah malam ini Arif akan ‘menembak’ diriku alias menyatakan cintanya?
“Mau ngomong apa sih Rif. Kayaknya serius banget?”
Arif terdiam sebentar, seperti mencari kata-kata yang tepat.
“Begini Vin, aku mau.....,” kata Arif terputus.
Vina hanya diam saja, tapi dalam hati ia bersorak. Ayo terus Rif, ungkapkan saja isi hatimu. Aku tak akan menolak kalau kamu minta aku jadi pacarmu.
“Aku mau minta sesuatu sama kamu, Vin.”
Minta sesuatu? Vina jadi bertanya-tanya dalam hati. Mungkin maksud Arif mau minta hatiku kali ya?
“Minta apa Rif?” tanya Vina penasaran.
“Begini Vin, dua hari lagi kan ulang tahun adik sepupuku,” jelas Arif.
Lho , kog jadi melenceng soal sepupu Arif? batin Vina.
“Terus kamu mau minta apa Rif?” tanya Vina agak patah semangat.
“Sepupuku itu suka kucing Vin. Jadi aku ....”
“Kamu mau minta anaknya Si Manis ya?” Vina langsung sadar arah pembicaraan Arif.
“Eh, iya Vin. Itupun kalo kamu nggak keberatan.”
“Ya, boleh aja Rif. Apa sih yang nggak boleh buat kamu.”
“Duh. Makasih banget lo Vin. Kamu baik deh.”
“Udah, nggak usah muji-muji segala. Yuk, kita ambil ke belakang,” kata Vina seraya bangkit dari duduknya. Arifpun mengikutinya dari belakang.

Setelah malam itu Vina masih berharap suatu saat Arif akan menyatakan cintanya. Harapannya baru pupus ketika Mita, teman sekelasnya ber-infotaiment ria di kantin sekolah.

“Ternyata Arif sudah punya pacar loh.”
“Siapa Mit?” tanya Ranti yang selama ini juga naksir Arif.
Vina yang ikut mendengar hanya diam saja.

“Tika, teman SMP-ku dulu. Aku baru tau waktu diundang ke pesta ulang tahunnya kemarin,” jelas Mita.
“Eh, kalian tau nggak hadiah yang diberikan Arif buat Tika? Romantis sekali deh,” sambung Mita lagi.
Vina tanpa sadar langsung bersuara, “Anak Kucing!”
Mita kaget dan menatap Vina dengan heran. Kog kamu tau Vin?”
“Ya, tau lah. Aku aku kan masih ada hubungan darah dengan mama Loren,” jawab Vina ngawur sok cuek menyedot es jeruknya hingga habis..... sambil menyimpan dalam rahasianya.


Kisah Cerita Cinderella


Cerita Cinderella telah diceritakan di banyak versi beberapa negara. Namun tayangan film cerita Cinderella dalam bentuk animasi yang dibuat oleh Walt Disney Production sepertinya telah menjadi rujukan cerita Cinderella yang lebih kontemporer. Versi cerita cinderella yang paling terkenal ditulis oleh seorang penulis asal Perancis Charles Perrault pada tahun 1697 yang didasarkan pada cerita rakyat yang pernah ditulis oleh Giambattista Basile.

Kisah cerita Cinderella menceritakan nasib seorang gadis desa yang disia-sia oleh ibu dan saudara tirinya. Ayah Cinderella telah meninggal dunia. Ia pun hidup dalam penderitaan bersama ibu tiri dau saudara tiri. Cinderella tak pernah menyangka kalau suatu hari ia bakal menjadi seorang permaisuri istana. Kisahnya berawal dari suatu hari saat istana menggelar pesta dansa. Pangeran berniat mencari calon istri. Maka ibu tiri dan dua orang saudara Cinderella pun berangkat ke istana sementara Cinderella tak boleh ikut. Hingga kemudian seorang peri yang baik hati menyulap Cinderella menjadi seorang puteri yang cantik jelita mengenakan kereta. Hanya saja persyaratan yang diberikan oleh peri adalah sulap tersebut akan habis masanya pada pukul 12 malam.

Sesampai di istana, pangeran amat terpesona dengan kecantikan Cinderella, ia pun diajak berdansa hingga tanpa sadar sudah pukul 12 malam. Menyadari hal tersebut Cinderella buru-buru kabur tanpa pamit pada pangeran. Pangeran pun mengejarnya, hingga sepatu Cinderella patah ia tak memperdulikannya, ia terus saja berlari. Pangeran memungut dan menyimpan sepatu tersebut. Ia pun membuat pengumuman kepada siapa saja yang pas memakai sepatu tersebut maka akan dijadikan istri.

Seluruh gadis desa mencoba sepatu tersebut, namun tak ada yang bisa memakainya. Hingga akhirnya pangeran menemukan Cinderella, Cinderella pun mengeluarkan sepatu yang satu lagi dari kotak. Ibu dan saudara tiri Cinderella amat terkejut, Cinderella pun akhirnya dibawa ke istana untuk dijadikan istri pangeran. Begitulah kisah cerita Cinderella yang sampai hari ini banyak dijadikan berbagai ide pertunjukan drama, film dan sebagainya.

Cinta dan Sahabat

Cinta dan sahabat, dua hal yang tak mudah ntuk dimengerti. Kadang bisa sangat berarti, namun dalam hal itu bisa membuat luka teramat perih. Aku adalah orang yang berada di tengah-tengah cinta dan sahabat itu. Kini, aku yang begitu merindukan hadirnya seorang kekasih, dalam hangatnya persahabatanku dengan Sisil yang lebih muda satu tingkat dariku.

Tiga minggu di awal semester satu...aku duduk di bangku kelas XII, seabrek kegiatan pun kulalui tanpa kuharus memikirkan cinta menurutku itu hanya membuatku lelah.
Namun, pertemuan itu membuatku melupakan suatu hal, aku yang larut dalam perasaanku terhadap Alan. Aku terlalu bodoh karena terlalu jatuh hati pada orang yang salah, jatuh hati pada orang yang tak pernah menyimpan cinta padaku. Aku tak begitu saja menyalahkannya! Dia tak patut untuk disalahkan, dia hanya korban dari cintaku dan dia terlalu baik mau mengerti akan cintaku padanya.

Dan terlalu naif bila kini aku harus menyesal karena mengenalnya. Karena dia aku dapat merasakan hal terindah, walaupun hanya sekejap. Aku terlalu naif hingga aku pun tidak menyadari Sisil merasakan juga perih yang kurasa. Sisil sahabatku orang yang kupercaya seutuhnya, orang yang selalu berusaha ada untukku. Kini, telah terluka karena keegoisanku.

Seharusnya aku tak pernah hadir di antara Alan dan Sisil. Bila akhirnya luka ini yang kurasa.
Andai saja kusadari dari awal, andai saja ku lebih mengerti mereka, andai saja aku tidak jatuh hati pada Alan, Alan dan Alan. Orang yang kucintai dan selalu ada dalam hatiku walau hati ini terasa perih, kudapat mengerti tak ada gunanya kubertahan di sisimu, karena ternyata kau lebih menginginkan Sisil mengisi hari-harimu. Aku di sini yang begitu tulus mencintaimu dan aku yang selalu berusaha ntuk mengerti dirimu kan selalu menanti dan menata hati lagi hingga bayanganmu pergi hingga tak ada lagi luka kurasa, hingga tak ada lagi kecewa yang terasa.
Aku di sini kan selalu berusaha tegar menjalani hari-hariku, aku kan selalu berusaha tersenyum agar kau bisa bahagia bersama Sisil sahabatku. Walaupun dia telah merebutmu, kisahku dan dia dulu takkan pernah kulupa, dia tetap sahabatku, percayalah dengan sisa kesedihanku ini.

Kumasih dapat bertahan hingga kelak kau mengerti bahwa aku memang mencintaimu. Aku memang menyayangi, tapi aku tak rela tersakiti olehmu saat ini, esok dan sampai kapanpun.
Pertemuan itu berawal dari perkenalanku dengan Alan, seorang cowok yang aku kenal dari temanku, Marcell. Perkenalan yang terbilang singkat juga, aku mulai merasakan getaran cinta itu. Rasa itu mulai menerangi kembali tahta hatiku yang telah lama ditinggal pergi oleh seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupku dulu. Yang sampai saat ini pun aku belum bisa melupakannya.

Alan yang telah hadir untuk mengisi hari-hariku pun membuatku terlelap akan rasa bahagia itu, hingga akupun tak pernah menyadari ternyata semua kebahagiaan itu palsu. Alan orang yang kucintai dengan tulus ternyata datang hanya untuk menyakiti dan menorehkan luka. Luka yang teramat dalam di hatiku. Pertemuan itu juga yang telah menghancurkan semuanya. Hidupku yang begitu indah yang begitu berwarna menjadi hancur akan hadirnya!

Malam itu aku dan Alan sepakat untuk memadu kasih, merajut asa dan menggapai cita berdua. Aku belum pernah merasakan sebahagia ini, aku begitu merasa begitu beruntung bisa dicintai oleh orang yang kucintai. Hari-hari bahagia pun mulai kami lalui. Alan begitu indah di mataku yang membuatku lupa akan segalanya, bila bersamanya. Itu juga yang membuatku merelakan tahta hatiku dipenuhi oleh cintanya, namun lagi-lagi kenyataan tak selalu berjalan sesuai dengan yang kuharapkan.

Minggu pertama hubungan cintaku bersama Alan mulai goyah, Alan mulai berubah dan tidak lagi Alan yang selalu tersenyum untukku. Alan tidak juga bersifat manis padaku, setiap tutur katanya yang menyejukkan hatiku kini terasa mengiris-iris hatiku. Apa yang telah kulakukan padanya hingga dia begitu tega padaku, aku begitu percaya padanya hingga aku pun terluka olehnya.

Hubungan ini berakhir begitu saja, pertemuan singkat itu menjadi menyakitkan. Sahabat pun menjadi pelarian sedih dan kecewa, tapi sahabatku tega mengkhianatiku. Dia yang ternyata merebut Alan dariku, dia merenggut semua kebahagiaanku . Persahabatan yang telah bertahun-tahun kubina bersamanya pun menjadi tak berarti. Aku lelah dengan semua ini hingga aku sempat memutuskan tali persahabatan itu, egoiskah aku?

Aku hanya belum bisa berpikir jernh saat itu, aku merasa semakin tolol, seharusnya kubisa merelakan Alan dan Sisil untuk bersama. Karena mungkin kebahagiaan Alan hanya ada pada Sisil! Aku belum siap kehilangan kebahagiaan itu, aku masih ingin disayangi walau semua itu hanya kebohongan. Aku tak mau merasakan sakit hati ini lagi. Akankah sakit ini akan terganti saat ku melihat kebahagiaan orang yang kucintai dan Sisil sahabatku.

Kini dalam setiap hari-hari sepiku, dalam kesendirianku, aku hanya bisa berharap aku kan memiliki kekasihku lagi, memiliki dia yang telah pergi, karena aku kan selalu mencintainya. Aku kan selalu mengenangnya di dalam hatiku,karena dia telah datang dan pergi dengan menghiasi setiap sudut didalam hatiku dengan cintanya yang sesaat, dan Sisil sahabatku buatlah cintaku bahagia karena kalian begitu berarti untukku.


Sebuah Penyesalan dan Tangisan Untukmu

Ini kisah ku yang paling menyedihkan. Tapi, pengalaman ini takkan pernah bisa aku lupakan. Semua kisah ini berawal di hari itu…..

Hari ini tahun ajaran baru. Seperti biasa para siswa dan siswi baru melakukan kegiatan rutin setiap tahunnya yaitu MOS. Aku salah satu siswi baru di sekolah ini. Pada awalnya semua hari yang kujalani biasa saja tapi ku tetap menikmatinya sambil terus mencari teman dan pangalaman baru.

Pelajaran pun mulai berlangsung seperti biasanya dan para siswa memulai kegiatan belajar. Saat itu konsentrasi ku dan siswa lain terhenti sejenak di saat suara ketukan pintu berbunyi dan muncullah wakil kepala sekolah kami beserta seorang cowok yang belum pernah aku dan temanku kenal. Pada saat itu wakil kepala sekolah kami berbicara di hadapan kami semua dengan suara yang keras,“ anak – anak, di kelas kalian ini ada siswa baru. Seharusnya dia ini masuk sekolah sama waktunya dengan kalian semua, tapi berhubung karena ada keperluan mendadak di singapura, maka dia menunda jadwal pertama masuk sekolah menjadi hari ini…”

Setelah pak guru menjelaskan perihal cowok baru itu, yang kalau ku lihat-lihat cakep juga JJ hehehe…..kemudian pak guru menyuruh anak itu untuk memperkenalkan dirinya. Memang terlihat dari wajah anak itu sedikit keraguan, tapi akhirnya dia bersuara juga. Dia kemudian langsung memperkenalkan diri kepada kami semua, “ nama saya Reyvan, saya dari SMP Bunga bangsa. Senang berkenalan dengan kalian semua…” setelah dia memperkenalkan diri, kemudian wakil kepala sekolah kami menyuruh dia untuk duduk di bangku yang masih kosong. kebetulan atau emang keberuntunganku saat itu bangku yang kosong ada di depan meja aku …..waaaaaaahhhhh asiiiikkkk nech,,,,>_< JJJ…
Saat itu juga cowoq cakep itu,,,(ech salah, namanya qhand Reyvan) langsung duduk di depan mejaku. Aih….aih….seneng banget rasanya cowok secakep itu langsung dihadapan ku. Tapi aku gak boleh lama-lama mengagumi dia, karna aku harus ngelanjutin pelajaran yang sempat tertunda tadi.

########

Sekarang waktunya istirahat dan sekarang juga saatnya aku untuk berkenalan dengan dia, supaya lebih deket gitu….(malah kalau bisa lebih deket lagi). Aku mulai bertanya padanya, “ hayyy….nama kamu Reyvan ya???? Kalau boleh tau rumah kamu di mana sih???”, saat itu dia diam saja. Tapi beberapa lama kemudian dia kemudian menjawab, “ Rumah ku deket kok dari sini,kebetulan aku juga baru pindah….jadi aku lupa nama jalannya itu apa, tapi seingat aku di deket masjid yang warna hijau itu lah…”

Dalam hati ku berpikir….masjid yang warna hijau itu kan adanya di sebelah gang ku, berarti rumah dia deket donk dengan rumah ku......kemudian aku balik jawab, “ jalan itu namanya gang ridho, berarti deket donk dengan rumah ku???. Kalau begitu kita pulang bareng ya???” ini kesempatan emasku…kapan lagi bisa pulang bareng cowok cakep???
Dia kemudian langsung mengiyakan ajakan ku,,YES!!! Lengkaplah sudah keberuntungan ku hari ini.
Bel tanda pulang sudah berbunyi, aku sudah tidak sabar untuk bisa pulang bareng dia. Kami keluar dari kelas bersama-sama. Setelah ku perhatiin dia orangnya pendiam juga. Sampailah kami di gerbang sekolah, dia meminta ku untuk menunggu di gerbang itu. Aku bertanya-tanya dalam hati memangnya apa yang mau diambilnya lagi???tapi ku menurut saja. Tidak berapa lama kemudian, dia muncul dengan menaiki sepeda motor keren!!!! OMG…mimpi apa aku semalam di bonceng cowok cakep kayak Reyvan???
YES….YES……..YES…pokoknya hari ini aku seneng banget!!!



Hampir satu tahun berlalu semenjak hari itu. Hubungan pertemanan kami juga semakin akrab. Tapi yang anehnya dia hanya mau berteman dan dekat denganku. Padahal dia tau, banyak juga cewek di sekolah itu yang mengaguminya…tapi sepertinya dia tidak peduli, malah dia menjauhi mereka semua dan Cuma mau berteman denganku. Tapi tidak apa-apa…yang penting dia tetap dekat denganku.

Tapi lama-kelamaan timbul rasa aneh yang paling aku takuti..aku gak mau sampai rasa itu timbul padaku. Tapi kusadari, aku tak bisa menolaknya. Ternyata aku menyukai Reyvan!!! Oh tuhan….kenapa rasa itu sampai terjadi dan menimpaku?. Tapi untungnya aku bisa menutupinya dari Reyvan karena ku tidak mau berharap lebih darinya.

Dia begitu sempurna bagiku…bagaimana tidak sempurna?? Dia cakep, baik, tajir, keren, De El El lah..sedangkan aku, ku hanya cewek biasa, sederhana, pokoknya gak ada istimewanya lah (jadi menghina diri sendiri nich LL). Pokoknya aku harus ngelupain rasa itu. TITIK!!! Dia baik aja denganku aku sudah bahagia….tapi menurutku dia begitu perhatian dengan ku. Dia selalu membantuku jika aku dalam kesulitan, atau selalu menanyakan apakah aku sudah makan atau tidak. Ideeeeh……..dia perhatian banget. Kadang-kadang ku juga sempat ge-er, jangan-jangan dia juga menyukaiku…tapi itu kayaknya mustahil banget. Makanya ku jangan berharap lebih ama dia.

Hari itu praktek olahraga. Semua orang di kelasku termasuk aku sudah berada di lapangan. Tapi aku lupa membawa air mineralku untuk persediaan nanti, Terpaksa lah ku balik lagi ke kelas. Sesampainya ku di kelas, aku melihat Reyvan duduk di banngkunya sendirian. Aku bertanya dalam hati, Reyvan kok nggak ikut olahraga?. Akh daripada penasaran, mendingan ku tanyain langsung aja, “ Rey, kamu kok gak ikut olahraga? Kamu sakit ya?”. Saat itu juga dia langsung menjawab, “ gak koq, ku Cuma gak enak badan aja”

Duh….kasiannya lihat Reyvan, aku langsung menempelkan telapak tangan ku di dahinya, dan sontak saja aku terkejut. Badannya panas banget!!!. Aku bilang padanya supaya di bawa ke ruang UKS saja tapi dia menolak. Walaupun begitu, tetap saja aku akan memberitahukan ini ke petugas UKS sekolah kami. Ketika aku akan pergi, dia menarik tanganku dan mendekatkanku ke wajahnya.

“ Sudah…gak usah khawatir, aku baik-baik aja kok kamu tenang aja..” waw….wajahnya deket banget dengan wajahku,,langsung saja aku deg-degan..tapi segera ku lepaskan tangannya. Tapi sepertinya di menolak karna dia tetap menggenggam tanganku. “ Sarah…ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu…tapi aku takut kamu bakalan menolaknya” terdengar suaranya ragu-ragu…tapi segera ku menjawab, “memangnya apa yang ingin kamu katakan”. Dia terdiam sejenak, tapi akhirnya dia melanjutkan ucapannya, “ sebenarnya dari dulu aku menyukai kamu, sebelum aku memasuki sekolah ini. Aku sudah mengenal kamu lebih dulu. Saat aku dan papaku berjalan-jalan di sekitar daerah ini karena ingin mencari lokasi proyek baru, aku melihat kamu sedang bercanda bersama temanmu. Ntah knapa rasanya aku langsung tertarik padamu. Aku tanyakan kepada penduduk di sekitar tentang kamu, ternya’ta kamu sebaya denganku dan baru saja tamat SMP. Begitu tau kamu sudah mendaftar di sekolah ini, aku langsung meminta ijin pada papaku untuk segera mendaftarkanku di sekolah dimana kamu akan sekolah nantinya. Sebenarnya papaku tidak mengijinkan karena aku baru saja mendaftar di sekolah yang lebih elit.

Tapi akhirnya papaku menuruti keinginanku, dan kamu tau kanapa aku memaksa untuk tetap bersekolah disini??? Karena aku ingin mengenalmu lebih dekat…..aku ingin kamu dan aku akhirnya bersama. Dan akhirnya keinginanku terkabul. Tapi aku tidak tau pasti kamu mau menerimaku atau tidak. Yang pasti ku sudah berkata jujur padamu karena sudah dari dulu perasaan ini aku pendam. Sarah….aku mau kamu berkata jujur padaku, kamu mau menerima aku jadi pacarku???”, pertanyaan Reyvan saat itu membuat aku terkejut, mengapa tidak, dari dulu aku mengaguminya dan ternyata dia diam-diam juga menyukaiku!!!! YES…! Ternyata pengorbanannya cukup besar juga untukku..

Beberapa saat kemudian dengan sedikit malu-malu, aku langsung menjawab, “aku tidak menyangka akan jadinya begini, tapi tahukah kamu Rey, dari dulu juga aku sudah menyukaimu…dan aku juga menerimamu menjadi pacarku…”…

Pernyataan itu membuat Rey terkejut. Dia langsung bertanya “ kamu yakin dengan jawabanmu itu?”. “ ya, aku sangat yakin” ku langsung menjawab pertanyaannya. Saat itu juga dia melonjak kegirangan, dan langsung memelukku dan Sepertinya dia sudah melupakan rasa sakitnya. Namun, saat itu juga ku melepaskan pelukannya dan ku katakan padanya ku harus melanjutkan olahragaku yang sempat tertunda tadi. Tapi, sebelum aku pergi aku memaksanya untuk tetap pergi keruang UKS. Mungkin karena saking senangnya, dia langsung menuruti perintahku. “ hati-hati ya sayang”….dia mengatakannya padaku. Dengan tersenyum ku juga menjawab, “ ya cyank, cepat sembuh juga ya, jangan lupa minum obat”, ku langsung beranjak pergi dan berlari sambil melonjak kegirangan dan berteriak dalam hati “INI ADALAH HARI KEBERUNTUNGANKU!!!!!!!!!!.....”

Sudah sebulan kami jadian dan belum ada dari temen-teman kami yang mengetahuinya. Tapi itu memang ku sengaja karena ku tahu Reyvan amat populer di sekolahku. Sebenarnya Rey ingin semua orang mengetahui tentang hubungan ini, tapi tapi ku menolaknya, ntar aku malah di benci karena ku sudah mengambil cowok idaman mereka, Hihihihii

Tapi, sepertinya ada yang disembunyikan Rey dariku. Tapi ku tak tau itu apa. Aku tidak mau berprasangka buruk padanya, karena ku tau, Rey adalah cowok yang setia. Dia amat menyayangiku jadi tidak mungkin dia mengkhianati hubungan kami.

Suatu saat, aku memergoki Rey sedang membaca selembar kertas, tapi begitu mengetahui kedatanganku, di langsung menyembunyikannya. Aku berusaha memaksanya untuk melihat, tapi dia menolak. Saat itulah kecurigaan ku berawal….

Sebulan kemudian, Rey pergi selama dua minggu dan dia tidak memberitahukan kepergiannya itu kepadaku. Sebagai pacar, sepertinya aku tidak di hargai. Masa’ dia pergi selama itu tidak memberitahuku? Saat itulah ku mulai ngambek dengannya. Dan disaat kepulangannya, dia langsung mendatangi rumahku, dia langsung bertanya, “ yank kamu koq gak ada menghubungi aku beberapa hari ini?”, disaat itu juga ku langsung menjawab, “ gak salah? Kayaknya kamu yang kayak gitu dech. Kemana aja kamu dua minggu terakhir?kamu koq gak kasih kabar aku? aku ini kan pacar kamu!!!”
Dia terdiam sejenak dan sepertinya tidak menjawab pertanyaanku. Melihat responnya seperti itu, aku langsung mengatakan padanya, “kamu gak berani menjawab kan??” “bukan gitu yank..aku per…gi a…ku pe..rgi ke….” Dengan terbata-bata dia menjawabnya dan ku langsung memotong pembicaraannya, “sudah jelas kan semua?

Menjawab itu saja kamu ketakutan, berarti dugaanku selama ini benar, kamu Selingkuh!!!!!yaudahlah gini aja, mulai hari ini kita putus!!!! Begitu mendengar keputusanku, dia langsung menjawab, “kok secepat itu keputusan kamu??ini semua bisa aku jelaskan…”, “ gak ada yang perlu kamu jelaskan lagi, semuanya kan sudah jelas, mulai sekarang, anggap saja kita gak ada hubungan apa-apa…”. Di saat mendengar ucapanku, ku lihat dia menangis!!!

Dia langsung berkata, “kalau memang ini keputusanmu, ku terima. Tapi kamu harus tau, tidak ada cewek lain selain kamu. Aku bukan cowok seperti yang kamu bayangkan. Di dalam hati ini tulus mencintai kamu. Terimakasih karena kamu sempat menjadi orang yang istimewa di hidupku. Tapi walaupun kita sudah tidak ada hubungan lagi, aku tidak akan pernah melupakanmu…..” itulah kata-kata terakhir yang ku dengar dari mulutnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia langsung pergi meninggalkanku…..tapi dalam hati, ku tidak ingin perpisahan ini smapai terjadi…

########

Hari-hari di sekolah terasa tidak istimewa lagi setelah kejadian itu. Memang, setelah dia datang menemuiku waktu itu, dia tidak pernah datang kesekolah lagi. Namun ku tidak pernah memperdulikannya lagi.

Setelah seminggu kemudian, di kelasku sedang konsentrasi melihat guru menjelaskan pelajaran di depaan kelas. Namun terhenti sejenak di saat kepala sekolahku datang, sepertinya ada sesuatu yang ingin di beri tahukannya. Yeach…tentu saja. Kepala sekolah kami dengan raut wajah serius memberutahukan sesuatu yang pada akhirnya sulit untuk ku percaya…”anak-anak, di sekolah ini baru saja kehilangan murid sekaligus teman kalian. Dia di panggil yang maha Kuasa tadi malam…Reyvan Reizkadira. Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit Singapore saat setelah operasi atas penyakit yang di deritanya, kanker otak. Semoga arwahnya diterima di sisi tuhan yang maha kuasa…”

Setelah mendengar ucapan dari pak kepala sekolah, sepertinya dunia ini berputar….aku gak percaya dengan kenyataan ini …ternyata dia menyembunyikan ini dari ku!!!
Sepulang sekolah, ku berlari menuju rumahnya….terlihat ada banyak orang di sana dan juga sebuah karangan bunga menandakan bahwa ada yang berduka cita di sana. Tanpa menunggu lama lagi, ku langsung memasuki rumahnya dan….astaga…..ku melihat Rey terbaring di sana!!!!. Batin ini menjerit….dan masih tidak terima atas kenyataan ini. Ku langsung menghampiri jasadnya…terlihat wajahnya kaku namun tersenyum seperti memberi isyarat dia bahagia di sana….tapi ku masih belum menerima kenyataan ini!!!! Oh tuhan…kenapa ini semua begitu cepat terjadi?? Ku masih mencintai dia tapi dia begitu cepat meninggalkanku.

Disaat ku larut dalam tangisan, terasa pundakku di tepuk. Setelah menoleh ke belakang, aku melihat seorang cewek yang sepertinya masih SMP memberi isyarat bahwa dia ingin berbicara padaku. Aku pun mengikutinya ke sebuah kamar yang ternyata itu adalah kamar Rey. Di sana aku melihat fotoku tetap menghiasi dindingnya….ternyata tidak ku sangka, walaupun aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, dia tetap mencintaiku..oh tuhan…betapa jahatnya diriku memutuskannya di saat dia membutuhkanku….

Ku lihat cewek yang ternyata adiknya Rey itu memberikan sebuah surat padaku. Dia mengatakan sebelum kakaknya itu menghembuskan nafasnya yang terakhir…dia menyuruh adiknya memberikan surat itu padaku sesuai wajah yang ada di dalam foto itu. Dan setelah ku buka, ku langsung menangis sejadi-jadi nya ketika ku baca isinya. Di menuliskan:

“ dear Sarah….
Ketika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Maaf jika aku menyembunyikan semua ini darimu…aku tidak mau kamu terus kepikiran karena ku. Ketika kamu melihat aku menyembunyikan sebuah kertas, itu adalah catatan mengenai penyakit ku…aku tidak mau kau sampai mengetahui semuanya…dan ketika aku tidak memberitahukan kepergianku waktu itu, karena aku tidak ingin kamu mengkhawatirkanku karena di saat itu aku ingin menjalankan operasiku yang ketiga…yach…aku memang aku mengidap penyakit kanker otak…aku tidak ingin kamu mengetahui penyakitku yang sebenarnya karena ku takut kamu tidak mau menerimaku dan malah meninggalkanku.
Ketahuilah sarah….kamu begitu berarti bagiku. Aku tidak mau sampai mengecewakanmu…dan aku tidak mau sampai kehilangan kamu..tapi perpisahan itu telah terjadi,,,sebenarnya hatiku hancur saat itu semua terjadi..tapi aku harus menerimanya jika itu dapat membuatmu senang.

Walaupun aku sudah tidak di dunia ini lagi, tapi aku akan tetap mencintaimu dan tetap memperhatikanmu di sana. Mohon jangan tangisi kepergianku karena itu akan membuat hatiku sakit dan tidak tega meninggalkanmu…..
Aku akan tetap selalu di hatimu dan selalu menjagamu……
Kau yang terindah…

Yang mencintaimu,
Reyvan

Tangisanku tak bisa di bendung lagi ketika membaca surat itu. Ternyata aku telah salah menilainya….kesetiaannya yang begitu kuat tapi aku sangat meragukannya…cintanya begitu besar untukku tapi aku membalas dengan malah menyakitinya.
Maafkan aku Rey….aku telah sangat bersalah karena telah berburuk sangka padamu. Tapi ku lakuin itu karena aku sangat sayang padamu, ku gak mau kamu meninggalkanmu dan pergi dengan yang lain…tapi semuanya telah terlambat…aku tak bisa berbuat apa-apa lagi…yang bisa kulakukan hanya menangis dan terus menangis…

Aku ikut mengantarkan Rey di tempat peristirahatannya yang terakhir. Walaupun air mata ini terus mengalir, tapi aku harus ikhlas melepasnya. Mungkin hanya surga tempat yang pantas buat orang sebaik dia…

Selamat jalan Rey…aku akan tetap mengenangmu meskipun kita telah berpisah,,,,namun hati ini masih untukmu….di setiap do’aku akan kuselipkan namamu…agar tuhan tau bahwa kau orang yang paling berarti dalm hidupku… Miss you…

(100) Satu Cinta

‘’CEWEK Keberapa tuh Jon?’’ Pertanyaan itu hampir setiap minggu kutanyakan ke Jono, sahabatku. Sekedar informasi, jangan tertipu dengan namanya, Jono. Si playboy cap kutu busuk, monyet nangkring, kambing congek, kura-kura dalam perahu, pokoknya semua isi kebun binatang deh. Semua julukan itu didapatnya dari semua cewek-cewek yang pernah dia pacari, kira-kira satu pekan satu orang. Bayangkan saja berapa banyak julukannya hingga saat ini! Namanya memang nggak ada kerennya sedikitpun, tapi tampangnya beuhhh...?? Kayaknya itu deh yang buat cewek-cewek klepek-klepek.

‘’Mau tau aja,’’ jawab Jono dengan tampang innocent-nya, yah??? “Emm... Si Icha yang ke sembilan delapan, Wulan sembilan sembilan, so yang ini ke Seratus deh. Hore....!”
‘’Seratus??’’ kataku kaget, sampai-sampi aku tersedak es cendol yang sedang aku minum. Gila lo, tapi keren banget Jon.
Jujur aja sebenarnya aku iri banget Jono. Tapi apa boleh buat aku memang bukan tipe orang yang kayak Jono. Aku sih punya satu aja udah cukup, itu juga susah ngedapetinnya.

***
Suatu hari hal aneh terjadi, bayangin aja, Jono cerita ke aku, kalau dia mau tobat dari kebiasaannya yang suka gonta-ganti pacar.
‘’Hah?? Serius tuh? Kamu nggak sakit kan Jon?’’ kataku benar-benar nggak nyangka pembicaraan beberapa detik yang lalu.

‘’Ya iya lah,’’ kata Jono. “Emang nggak boleh ya?” sambungnya.
‘’Boleh-boleh ajha sich. Tapi kalau aku boleh tahu, kenapa sampai tiba-tiba mau berhenti jadi player? Bukannya dulu kamu bilang itu obsesi kamu yang terbesar? Udah itu pake ngajak-ngajak aku lagi,’’ kataku dengan seribu pertanyaan, sampe-sampe bicara aja udah kaya pemadam kebakaran (muncrat maksudnya).

‘’Itu kan dulu. Orang kan bisa berubah,’’ katanya membela diri.
‘’Ah nggak mungkin, aku nggak percaya. Pasti ada apa-apanya kan? Hayo...?’’ kataku mencoba mencari jawaban yang lebih pasti. Karena aku yakin banget pasti ada hal yang nggak beres. ’’Jangan bohong deh sama aku, aku bukan 100 cewek yang udah kamu bohongi itu Jon, aku sahabat kamu!’’ tambahku, yang memperlakukan Jono layaknya seorang maling yang ketangkep basah.

Wajah bloon Jono tiba-tiba aja nongol di depan mataku. Keliatan banget kalau dia bohong.
‘’Udah deh males minta saran sama kamu, sok detektif kamu.’’ katanya, lalu dia pergi.
Setelah hari itu hampir beberapa hari Jono nggak pernah ngobrol bareng aku di sekolah, apalagi datang kerumah buat pamerin gebetan barunya. Dan sejak hari itu aku lihat Jono berbeda dari biasanya, dia lebih banyak diam dan menyendiri kaya orang aneh.
***
Lewat seminggu Jono masih tetap aja kayak beberapa hari yang lalu. Aku ambil keputusan buat nyari tau apa sih yang buat sahabatku itu sampai begitu menyedihkan. Karena secara garis besar ramalan bintangku yang bersimbol kalajengking hitam nan jantan lagi macho (alah, Scorpio maksudnya), aku emang berbakat jadi seseorang yang bertugas menyelidiki sesuatu yang janggal sehingga ditemukannya titik pemecahan masalahnya dan... (ehm) kepanjangan, langsung ajha dech, detektif!

Kemudian aku mulai pencarian dari mantan pacar Jono yang terakhir, Wini. Niatnya cari informasi, eh malah Wini curhat ampe nangis-nangis Bombay nggak jelas gitu. Bikin aku sampe bete dan panik, takutnya ntar dikirain ngelakuin yang nggak-nggak, Ih amit- amit deh. Yang buat aku tambah bete, Wini minta bantuan aku buat balikan lagi sama Jono. Memangnya aku biro jodoh apa? Aku kan detektif.

Sialnya, aku benar-benar nggak dapat informasi apapun dari penyelidikanku yang pertama. Aku memutuskan untuk pindah kerencana B, mendatangi beberapa temen Jono. Tapi hasilnya tetep aja nihil. Dan aku juga cari tahu adakah masalah di dalam keluarganya, tapi keluarganya baik-baik aja. Dari sanalah aku mulai bingung dengan apa yang harus aku lakukan untuk langkah berikutnya. Akhirnya aku memutuskan untuk cari pertolongan dari orang lain.

Ya bener banget, aku harus kerumah Lili. Kata ku dalam hati untuk meminta bantuan dari pacar. Seakan-akan baru aja mendapatkan jalan terang.

Sesampainya di rumah Lili, aku langsung ceritakan semua yang sedang aku selidiki. Lili sama sekali nggak terkejut dengan apa yang baru aja aku ceritakan dan lagi dia nggak berkomentar apa-apa. Aku hanya bertanya dalam hati. Apakah Lili nggak pernah ngerasa kalau aku benar- benar cemas kepada sahabatku itu? Atau Lili emang sedikit lemot untuk menangkap apa yang aku ceritakan?

Aku masih aja bengong untuk menerka-nerka apa yang dipikirkan Lili tentang semua ini. Tanpa aku sadari Lili memulai pembicaraannya.

‘’Bim,’’ kata Lili memecahkan keheningan.
‘’Eh Iya,’’ jawabku sadar.

‘’Bima kenapa?’’ tanyanya seakan sadar akan kekosongan mataku.
‘’Oh nggak,’’ kataku buru-buru untuk mengalihkan pembicaraan. “Jadi, menurut Lili gimana?
Ehmmm, sebenarnya Lili mau ceritain sesuatu ke Bima, tapi....’’ Kata Lili dengan nada bicara ragu-ragu dan sedikit serius.

‘’Loh? Emang mau cerita apa?’’ Kataku Si Kancil? Yah bosen Li, Bima udah sering dengar diceritain Emak sebelum tidur. Aku mencoba menetralkan suasana yang sedikit berubah dari raut wajah Lili.

‘’Bima! Lili serius.’’
‘’Eh, iya maaf,’’ kataku. Ya udah cerita aja. Kok pake rahasian segala?
‘’Sebenarnya Lili takut ceratainnya. Tapi kayanya Lili lebih baik cerita deh ke Bima. Lili mulai dengan ceritanya. Ini ada hubungannya dengan Jono, Bim.”

‘’Ha Jono? Kenapa? Lili tau kenapa Jono bekalangan ini murung aja?’’ Tanya ku antusias.
‘’Duh, Bima sabar donk. Iya Lili kayaknya tau deh kenapa Jono sampai berubah gitu. Beberapa minggu yang lalu, emm Jono bilang kalau dia suka sama Lili.’’ Cerita Lili sedikit ragu-ragu.
‘’Apa? Jono nembak Lili?’’ kataku memotong kata-katanya dengan nada tinggi saking kagetnya.
‘’Tapi Bim, jangan salah paham dulu,’’ kata Lili. Pokoknya janji jangan marah dulu, dan jangan lagi-lagi potong cerita Lili. Oke?
‘’Iya,’’ jawabku udah kayak anak TK yang dijanjikan dibelikan permen kalau enggak nakal di kelas. Nasib.

Lili melanjutkan ceritanya. Sebenarnya Lili udah janji sama Jono kalau nggak bakal cerita ini ke Bima. Dalam diam, aku mendengarkan kalimat demi kalimat, kata demi kata yang keluar dari bibir Lili.

Jono emang bilang kalau dia suka dan sayang sama Lili sebelum kita pacaran, tapi dia nggak minta Lili buat jadi pacarnya. Emm... pertamanya Lili nggak percaya dengan apa yang dikatakan Jono. Tapi semuanya benar-benar nyata dan Jono serius tentang itu. Satu hal yang buat Lili makin percaya, Jono bilang kalau Lili harus bener-bener bisa barengan terus sama Bima. Karena Jono nggak pengen liat sahabat terbaiknya merasa sakit.

Kalimat terakhir yang Lili ucapkan membuat aku nggak bisa bilang apa-apa. Aku benar- benar nggak nyangka kalau cowok kayak Jono bisa menghargai arti persahabatan, bahkan lebih dari aku. Aku ngerti banget Jono berani ngelakuin hal itu karena dia nggak mau dikatain playboy pengecut. Karena salah satu dari banyak hal yang dia katakan ke aku kalau laki-laki itu harus berani mengungkapkan isi hatinya. Dan hal inilah yang membuat aku bisa nyatain sayang ke Lili.
Jono memang sahabat sejatiku, dia rela melepas cinta keseratus satunya untukku. Dan aku yakin ini kali pertama Jono merasakan benar-benar jatuh cinta. Tapi kenapa Jono harus merahasiakan semua dari aku? Ya bener banget, aku juga akan merelakan Lili untuk Jono jika aku tau hal ini lebih awal.


                                         First Love Never Die (Kisah Guruku)


Embun pagi masih merayapi batang daun yang hijau, matahari bersembunyi di balik awan. Namun aku sudah berdiri menatap langit yang masih putih. Hari ini terasa aneh bagiku, biasanya saat ini aku masih terlelap di atas kasur. Tapi karena mata tak bisa terpejam, memaksaku untuk mencari udara segar, menghilangkan rasa gelisah yang selalu menderaku.

Aku gelisah karena rindu. Rindu akan rumah, rindu pada keluarga di kampung, terutama rindu padanya. Aku kuliah di kota dan meninggalkan mereka di sana. Ingin sekali aku berjumpa dengannya. Dia yang telah mengisi relung hatiku selama tujuh tahun.

Di bawah pohon depan kost aku duduk santai sambil menikmati cuaca dingin di pagi hari. Di mana orang-orang masih enggan melepas mimpi indah, apalagi ini ‘kan baru pukul empat, mana ada yang terjaga sepertiku.
Dengan ditemani cappuccino hangat aku terhanyut dalam khayalan yang berisi kenanganku bersamanya. Orang yang pertama kali singgah di hatiku dan mungkin akan menjadi yang terakhir. Dia dua tahun lebih tua dariku. Kami bertemu saat aku masih duduk di bangku SMP. Kami selalu pulang bareng karena rumah kami berdekatan. Awalnya aku tak ada rasa dengannya, tapi karena kami sering berjumpa di rumah maupun di sekolah membuat rasa ini muncul. Kedekatan kami pun juga karena ayahnya adalah orang bawahan ayahku.

Waktu itu aku masuk ke SMA yang berbeda dengannya, namun setelah tiga bulan, aku tak betah. Kemudian ayahku menyuruh memasukkanku ke sekolah yang sama dengannya. Ia menjadi senang karena kami bisa satu sekolah lagi. Dan kami pun menjadi tambah dekat. Lalu lama-kelamaan hubunganku ini diketahui oleh ayahku. Dia sangat marah. Memang ayah tidak setuju kalau sampai aku menyukainya. Ketika mendengar kabar dari sekolah bahwa kami sering berduaan, ayah lalu menyuruh orang bayaran untuk memberi pelajaran padanya. Tapi hal itu tak membuat ia berhenti menemuiku. Kami pun bertemu secara diam-diam.

Suara gema adzan membawaku kembali ke alam nyata.
Huuh… Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi kenapa ia tidak datang, padahal ia sudah janji akan datang Sabtu kemarin. Apa yang terjadi dengannya?

***

“Lyza… Lyza!” aku mendengar orang memanggilku.
“Yola…ada apa?” ternyata cewek tambun yang se-kost denganku datang dengan nafas terengah-engah.
“Lyz…eng…itu aku mau bilang..itu…Ibumu sakit!”
“Apa? Masak iya, tahu dari mana?” aku langsung terkejut mendengar Ibuku sakit.
“Dari kampung, ada yang menelponku. Ng…kita ke kampung sekarang!” perintahnya.
“Aneh, kok gak ada yang beritahu aku?”
“Udahlah, pokoknya kita ke kampung sekarang.” Tanpa menunggu jawabanku, Yola langsung menarikku pulang. Lalu kami pun bergegas ke kampung.

***

Setibanya di kampung, aku merasakan suatu keganjilan di rumah pacarku. Kenapa berdiri sebuah tenda biru? Kebetulan aku dan Yola lewat depan rumah pacarku dan melihatnya di depan teras. Sewaktu ia melihatku, ia langsung lari masuk ke dalam rumah. Hatiku bertanya-tanya kenapa ia aneh begitu.
Sebelum tiba di rumah aku bertemu dengan Ibu pacarku di jalan. Aku pun langsung bertanya padanya, ada acara apa di rumahnya. Ibunya langsung menceritakan semuanya dan tanpa disadari aku menangis. Tiba-tiba pacarku datang dari arah belakang. Dia meminta maaf kepadaku, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia juga bilang kalau ia sangat mencintaiku. Kemudian di depan kedua orang tuanya kami berpelukan dan sama-sama menangisi akhir dari kisah kami.

Sesampainya di rumah aku langsung marah-marah tak karuan. Kedua orang-tuaku heran melihatku bertingkah aneh seperti itu. Yola lalu memberitahu mereka kejadian yang memang sudah ia ketahui sebelumnya. Orang-tuaku pun menasehatiku untuk mencari pasangan yang lebih sepadan dan lebih setia. Aku sangat tidak bisa menerima keputusannya itu.

Aku kembali lagi ke kota setelah mengetahui ternyata Ibuku baik-baik saja. Semenjak itu aku menjadi bertambah aneh, emosiku sering tak terkendali, setiap melihat sesuatu yang tajam, durian misalnya, ingin sekali kutancapkan ke kepalaku. Teman-temanku pun merasa risih atas sikapku, karena setiap teman laki-laki mereka ke kost aku selalu memarah-marahi mereka tanpa sebab. Pernah teman-temanku mengikatku dengan selimut di kursi karna aku mengamuk dan ingin bunuh diri.

Suatu ketika ada seorang pria yang bekerja di rumah sakit jiwa di sekitar kost, dia teman dari salah satu temanku. Dia melihatku membentak-bentak temanku tanpa alasan, sikapku itu sudah dimaklumi teman-temanku yang lain. Dan ketika aku membanting pintu, ia terkejut dan bertanya ada apa dengan gadis yang menarik perhatiannya.

Setelah mengetahui apa masalahku, ia pun menemuiku. Aku marah dengan kehadirannya yang tanpa izin. Lalu pria itu menyembur mukaku dengan air, dia kira aku kesurupan. Tapi ketika ia salah paham, lantas ia tertawa. Kemudian ia menarik tanganku, mengajakku duduk di teras. Tiba-tiba saja aku mengeluarkan semua masalah yang membebani hatiku dan aku menangis sejadi-jadinya di depan orang yang baru kukenal. Setelah selesai bercerita, ia menyuruhku mandi bersihkan diri lalu mengajakku makan bakso di sekitar situ. Entah mengapa kalau berada di sampingnya hatiku tenang sekali dan kehadirannya itu membuatku melupakan segala masalahku.

Seminggu kemudian di mana aku sudah kembali normal, aku mendapat kabar kalau mantan pacarku akan segera menikah.

“Lho, Lyza kok gak dapat undangannya,” tanyaku pada Yola.
“Dia gak mau ngasih tahu kamu, Lyz. Takutnya kamu ngedrop lagi.” Namun Randi, pria yang minggu lalu menenangkanku malah mengajakku ke sana.
“Gak ah mas, malas bolak-balik ke sana.”
“Kenapa, takut? Katanya gak ada rasa lagi.” Karena itu aku terpaksa pergi pada esoknya ke pesta pernikahannya Dicky.

***

Di pesta pernikahannya itu, aku sudah bisa membiasakan hatiku untuk melepasnya. Saat aku bersalaman dengannya, ia menangis. Lalu ia melihat mas Randi dan menyuruhnya untuk menjagaku serta jangan pernah menyakitiku. Sebenarnya aku masih sangat mencintainya. Tapi kami tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya. Karena sesuatu yang membuatnya terpaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya sama sekali.

Ayahku-lah yang sangat tidak menyukai hubungan kami. Waktu kak Dicky tak bisa menemuiku pada hari Sabtu, ayah menjumpainya dan keluarganya tanpa sepengetahuanku. Ayah memaki-makinya dan memarahi ayahnya. Ayah mengatakan kalau mereka tak pantas. Ayah sangat menghargai statusnya yang lebih tinggi dari ayahnya. Karena sakit hati orangtuanya lalu mencarikan jodoh yang lain untuknya.

Aku pun mengerti keadaan yang harus kuterima. Dan untuk melupakannya ku serahkan kembali semua yang pernah ia berikan padaku termasuk puisi-puisinya. Itulah mengapa istrinya heran dan bertanya kepadaku hadiah apa yang telah kuberikan kepadanya sehingga istrinya tidak boleh membukanya. Lalu masalah itu kuselesaikan dengan segera. Kutemui ia lalu menyuruhnya untuk memperlihatkan hadiah dariku pada istrinya.

“Untuk apa disembunyikan, lihatkanlah hadiah itu pada istri kakak biar dia tenang, adek gak mau ada masalah lagi di antara kita.” Dengan berat hati ia perlihatkan sebuah kotak musik, kalung dan sebagainya pada istrinya.
Semenjak itu aku jarang bertemu dengannya, tapi kami masih berkomunikasi seperti biasa dalam jarak jauh, hingga sekarang.


Pacarku Sahabatku

Pada suatu hari, ketika aku duduk di bangku panjang di sudut sekolah, datang seorang cewek yang cantik, namanya Wulan. “hei.., lagi ngapain ?”, “lagi baca-baca aja” jawabku. “Rio, Wulan boleh tanya nggak ?” dia bertanya lagi padaku. “boleh, Wulan mau tanya apa ?”
“gini, tadi ada cowok yang nembak Wulan, belum Wulan jawab sih, Wulan mau minta pendapat Rio dulu”
Aku heran, kenapa Wulan minta pendapatku, padahal aku hanya sahabatnya. Aku kembali bertanya “memangnya siapa cowok itu ?”
“Rian..”, dengan wajah gembira Wulan menjawab. Tanpa pikir lagi, aku pun langsung berkata “terima aja Lan, toh dia kan ganteng, baik, dan pujaan cewek lagi”
“yang bener yo.., ia deh, Wulan terima aja”.

Akhirnya, Wulan pacaran dengan cowok itu. Semulanya aku nggak merasakan apa-apa, tapi beberapa hari kemudian, setelah Wulan pacaran dengan cowok itu, aku merasa kesepian. Rasanya aku kehilangan sesuatu, biasanya aku selalu bersama-sama dengan Wulan, tapi sekarang tidak lagi. Memang ia sih,Wulan itu seorang cewek yang cantik, manis dan selalu menjadi rebutan cowok-cowok di SMA, tapi dia adalah sahabatku yang baik yang selalu menemaniku, yang tidak memandangku dari sisi manapun.

Ketika aku berjalan menuju kekantin, terlihat sesosok Wulan bersama cowoknya sedang bermesraan. Jantungku pun langsung berdetak kencang seperti jam gadang yang terletak di Padang. Timbul rasa cemburu di hatiku, aku nggak tahu, kenapa aku bisa begini. Kemudian aku duduk di pojok kantin dengan di temani segelas air jas jus, dia pun datang dan duduk di kantin itu juga bersama cowoknya.

“ah, sialan.., jantungku berdetak kencang lagi” kataku dalam hati.
Wulan tidak menegur aku, dia hanya melihat saja, aku pun tidak menegurnya. Kemudian aku pergi dari kantin itu dengan wajah yang agak kusam, mungkin aku telah jatuh cinta dengannya sehingga aku merasakan api cemburu yang begitu besar di dadaku. Setelah itu aku nggak pernah lagi bertemu dengannya.

Dua bulan kemudian…,
Pada suatu malam, ketika aku sedang menulis cerpen, terdengar suara cewek yang memanggilku di depan rumah, “Rio.., Rio.. ?” aku langsung bergegas keluar rumah.

“lo.., kok Wulan nangis, kenapa ?” tanyaku.“Wulan sedih Rio.., cowok Wulan selingkuh” Wulan menjawab dengan nafas yang tersenggat-senggat dan memeluk tubuhku. Aku pun terkejut dan berkata “kan udah Rio bilang, Wulan nggak usah percaya sama cowok itu !”

“ia.., ia.., Wulan menyesal Rio” kata Wulan.

“udah, sekarang Wulan pulang ke rumah aja, jangan pikirkan cowok itu lagi, masih banyak kok cowok yang suka sama Wulan” kataku dengan harapan bisa mengambil hatinya.
“nggak.., Wulan mau disini aja, Wulan nggak mau pulang…, nggak mau”
Kami pun duduk di kursi panjang yang ada di depan rumahku.
“ya udah, sekarang pejamkan mata Wulan dan rasakan angin yang berhembus.” Wulan pun memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke pundakku, beberapa menit kemudian dia tertidur. Aku nggak bisa tidur, aku menjaganya dari malam sampai pagi, setelah Wulan bangun, aku langsung mengantar ke rumahnya.

Setelah kejadian malam itu, Wulan kembali baik denganku bahkan lebih dari biasanya. Kami selalu bersama, baik di sekolah maupun dirumah. Di saat semua kesenangan itu terjadi, orang tuaku pindah tugas ke luar negeri, aku pun terpaksa harus mengikuti orang tuaku. Aku nggak ke sekolah beberapa hari sebelum berangkat dan aku nggak memberitahu soal ini kepada Wulan. Ketika aku mau pergi, aku hanya menulis sepucuk surat kepadanya, yang aku titip kepada satpam rumahku.

Wulan pun beberapa hari ini mencariku di sekolah, dia tidak menemukan aku di sekolah, akhirnya dia pergi kerumahku.
“pak..! Rio nya ada nggak ?” tanya Wulan.
“Den Rio nya baru aja pergi neng”
“pergi kemana pak ? kok nggak bilang-bilang”
“Den Rio pindah ke luar negeri, orang tuanya pindah tugas, ini surat dari Den Rio.”

Wulan langsung membaca isi surat itu.


Salam manis,
Mungkin saat Wulan membaca surat ini, Rio udah nggak di sana lagi. Rio sekarang pindah ke luar negeri, karena orang tua Rio pindah tugas. Rio tahu, wulan pasti sedih…, tapi apa boleh buat, mungkin kita nggak di takdirkan bersama.
Sebenernya.., dari dulu Rio sudah suka sama Wulan, cuma Rio nggak punya keberanian untuk ungkapin. Rio hanya sampah, Rio bukan siapa-siapa, Rio culun, Rio kuno…
Mungkin dengan kepergian ini, Rio bisa melupakan Wulan. Mudah-mudahan Wulan bisa dapet sahabat baru yang lebih baik dari Rio…
Sahabatmu..





Setelah membaca surat tersebut, Wulan langsung bergegas berlari menuju bandara. Dia terlambat, pesawat yang di tumpangiku sudah terbang. Dia menangis dan duduk di bangku yang terletak di ruang tunggu. Seorang anak kecil pun datang dan memberikan kertas yang bertuliskan…

pergi ke taman bandara sekarang..!

Wulan langsung pergi ke taman dengan tangisannya, kemudian dia terdiam. Sebuah alunan musik yang romantis, taman yang bertaburan bunga dan lilin yang membentuk sebuah jalan terbentang di hadapan Wulan. Tangisan Wulan pun berhenti dan dia melihat sebuah tanda panah yang menuju titik tengah taman tersebut, dia pun perlahan-lahan berjalan sambil menikamati musik tersebut. Setelah tiba di tengah taman tersebut, dia nggak menemukan apa-apa.

Kemudian terdengar, “Wulan.., ini Rio persembahkan buat Wulan, jangan nangis lagi ya !” Wulan pun langsung menoleh kebelakang dan langsung memeluk aku.
“ia, sekarang Wulan nggak nangis lagi kok, tapi kalo Rio lepas pelukan ini, Wulan akan nangis lagi”

Orang tuaku nggak jadi pindah karena pemindahan tugas di batalkan. Aku sangat senang. Malam itu juga, aku menyatakan perasaanku pada Wulan dan akhirnya dia menerimaku menjadi pacarnya. Dari sini aku mendapat pelajaran bahwa, jika kita memiliki perasaan janganlah di pendam, ungkapkanlah perasaan itu walaupun pahit rasanya.

Muhammad Aqil Al Fatih... Itu nama salah satu mahasiswa sekaligus seniorku. Mahasiswa lain biasa memanggilnya ‘Aqil’, tapi tidak denganku, aku lebih senang memanggilnya ‘Alfath’. Kebiasaanku mengganti nama orang memang sudah melekat kuat pada diriku.

Semua berawal dari PROSPEK. Kebetulan aku mahasiswa baru disalah satu Universitas Islam di kota Sangatta Kaltim. Jadi mau tidak mau aku harus mengikuti “Program Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus” (PROSPEK). Oh iya, namaku ‘Azzna’, nama yang diambil dari nama depan dan akhiran, begitulah orang-orang mendeskripsikannya.

Lengkapnya ‘Azzatul Khusna’. Waktu itu tepat seorang panitia prospek berteriak nyaring disampingku. ‘Owh My God, very noisy...!!!’ hanya kata itu yang aku ucapkan dalam hati. Setelah aku membelokkan kepalaku kurang lebih berbelok 90 derajat, kira-kira segitulah, karna aku juga tidak sempat mengukur berapa derajat kepalaku berbelok. Seorang laki-laki bertubuh tidak terlalu tinggi, berhidung mancung dan kalau aku bandingkan dengan laki-laki kebanyakan, dia termasuk laki-laki yang berkulit putih bersih, wajahnya terlihat sangat kalem dan religius.

Tapi lupakan dulu gambaran dari panitia yang aku ceritakan tadi, karna aku juga bukan type-kal cewe yang selalu menomor satukan fisikly. Dan semenjak itu ada kebencian yang tertanam dihatiku. Aku hanya kurang suka dengan sikapnya itu, aku tidak suka ada orang yang berteriak didekatku.

Waktu terus berjalan, dari prospek hari pertama, hari kedua, hari ketiga, dan aku merasa ada yang aneh denganku. Diam-diam aku suka memperhatikan seniorku itu, bahkan dengan berbagai alasan aku mendekatinya, tidak bisa disebut mendekatinya juga, karna aku hanya ingin melihatnya lebih dekat, paling tidak dari jarak yang tidak lebih dari satu meter. ‘sampah’.. yahh hanya itu yang bisa aku jadikan alasan. Dia berdiri tidak jauh dari tong sampah berukuran sedang, dua kali aku mondar-mandir memungut kertas/ plastic yang tidak terpakai, jelas memang aku seperti orang yang kurang kerjaan, tapi aacchhh.. aku tidak peduli, aku hanya ingin melihat kakak senior, just it.

Tiba waktunya para mahasiswa baru (peserta prospek., termasuk aku) harus meminta tanda tangan panitia-panitia prospek. Banyak panitia yang baik hati memberikan tanda tangannya tanpa si mahasiswa harus bersusah payah menuruti satu persatu perintah dari panitia. Tapi sepertinya hanya aku yang aneh, aku sibuk mencari dimana keberadaan salah satu panitia disana. Alhamdulillah, aku melihatnya, ‘Thanks God’, aku langsung mendekati rerumunan mahasiswa yang sedang asik meminta tanda tangan dari seorang panitia. Dan kini bukan satu meter lagi jarak aku dengan panitia itu.

Aku bisa melihat jelas wajahnya, dia berada tepat dihadapanku, aku melihat dia bertanda tangan atas nama ‘Muhammad Aqil Al Fatih’. Itu dia namanya, sekarang aku tau siapa namanya. Nama yang indah seperti keindahan yang terpancar dari wajahnya. Dan otomatis, aku tidak mau melewatkan kesempatan itu, setelah mendapat tanda tangannya, aku masih tetap berdiri tegap disana, memandangnya dengan kekaguman yang luar biasa, mengagumi ciptaan Allah dengan jantung yang terus berdetak kencang.
Prospek hari ke’empat, sekaligus prospek terakhir yang kami ikuti, aku dan mahasiswa lainnya, senang, sedih bercampur seperti gado-gado yang tidak enak dibenakku. Pukul dua siang, seorang dosen memberikan materi terakhirnya. Aku mendengarkan dengan seksama, tetapi otakku terhenti saat aku menyadari ‘Muhammad Aqil Al Fatih’ berdiri disamping kursi yang sedang kududuki. ‘Astaga, Kak Alfath’,.. aku terpekik pelan, aku terlalu senang dengan detik ini, detik yang memporak-porandakan otak dan hatiku. Dan bukan lagi seperti gado-gado yang bercampur aduk, melainkan seperti tomat yang diblender, berkolaborasi dengan gula, air, es batu yang teraduk dalam satu tempat. (huuuhhhh.. ...) aku menarik pelan nafasku dan mulai mencari inspirasi untuk memunculkan ide-ide konyol sesion 2, selain ide sampah kemarin. (Ohh inspirasi.. datanglah.. datanglah..)

Aku menjatuhkan pulpenku, bertujuan agar Kak Alfath bersedia mengambilkan untukku, dan sial.. pulpen itu tidak bisa diajak kolaborasi dengan baik. Ntah apanya yang salah, tanganku yang terlalu berdosa atau memang pulpenku yang sedang tidak mood bekerjasama denganku. Pulpen itu meluncur dengan tidak terkontrol. Alhasil, seorang laki-laki bertubuh besar yang duduk didepanku berbaik hati mengambil pulpen itu untukku. ‘makasih’.. itu yang aku ucapkan pada laki-laki itu dengan imbuhan senyum kecut yang sok’ manis.

Berhubung hari terakhir prospek, jadi malamnya diadakan acara ‘malam penutupan prospek’. Panjang ceritanya aku bisa dapat nomor HP Kak Alfath, tetap dengan berbagai alasan konyol, yang intinya, seusai prospek aku sudah ber’sms’an dengannya, yang aku tau sekarang, dia orang yang cukup pendiam, kaku seperti robot, atau memang karna aku yang belum mengenalnya lebih dekat. Tapi tenang saudara-saudara, sikap Kak Alfath yang seperti itu tidak lantas mematahkan semangatku.

Kampus mengadakan kemah mahasiswa disebuah pedesaan selama empat hari. Selama kemah mahasiswa itu, aku semakin menambah pengalaman dan wawasanku. Berbaur dengan warga sekitar, sangat menyenangkan. Terlebih lagi dengan adanya Kak Alfath, meski ada dia, tidak setiap saat aku bisa bertemu dengannya. Kami memang ber’sms’an, tapi bukan berarti kami jadi dekat, yang seperti aku bilang tadi, Kak Alfath seperti robot, tidak asik, kalaupun tidak sengaja aku bertemu dengannya, tidak ada tegur sapa sama sekali. Lambat laun, masih melalui sms, aku mulai tidak canggung lagi, obrolanku juga agak menjurus kearah rayuan, aku tidak peduli, aku bukan orang yang gengsi untuk merayu lawan jenisku, jelas yang aku maksud disini bukan rayuan seperti perempuan genit, nakal atau sebagainya. Kalau tidak percaya, aku akan beri salah satu rayuan terbaikku itu,

“Ehm.. kalau boleh jujur, ada satu hal yang aku suka dari kakak, aku suka mata kakak, indah,, bersinar,, aku boleh panggil kakak bintang?”. . gimana menurut kalian? Bukan seperti perempuan genit yang berusaha menggoda lawan jenisnya kan? Dari situ Kak Alfath mulai merespon, aku tidak tau itu harapan atau hanya sekedar formalitas saja. Kak Alfath juga mulai tidak canggung membalas kata-kataku, kami bisa lebih saling mengenal satu sama lain, dengan berbagai pertanyaan yang bertujuan memancing sang idolapun kukerahkan satu persatu, hingga aku tau banyak tentang Kak Alfath, dari makanan favorit, minuman favoritnya sampai hal terkecil aku berusaha untuk mengetahuinya. Dia terlihat lebih menyenangkan bila seperti ini.
And all my love
I’m holding on forever
Reaching for the love that seem
So far..
So i say a little prayer
Andhope my dream will take me
There
Where the skies are blue
To see you once again my love
Oversees from coast to coast
To find the place i love the most
Where the fields are green
To see you once again my love


Lirik lagu favoritku ‘westlife-my love’ persis menggambarkan perasaanku saat ini.
Empat hari berlalu, ‘kemah mahasiswapun hanya bisa dikenang. Akhirnya aku kembali dirumah. Aku masih bingung dengan perasaanku kepada Kak Alfath. Aku terus memikirkannya, dan itu membuat hatiku tidak tenang. Seusai shalat maghrib, aku menengadahkan tanganku pada-Nya.

“Ya Allah,, Ya Rob,, nama Kak Alfath sungguh semakin melekat dihati ini, kebencian yang pernah tertanam pada diri hamba kepada Kak Alfath sudah tidak ada dihati hamba, kebencian itu lantas menjadi jembatan untuk hamba masuk kedalam hati Kak Alfath, tentu hamba hanya ingin selalu melihat Kak Alfath dalam keadaan yang baik, berikanlah yang terbaik untuknya, amiinn..”

Didalam bait doaku, aku selalu melampirkan nama Kak Alfath, perasaanku akhir-akhir ini gelisah tidak melihat Kak Alfath. Ini pertama kali aku merasakan hal aneh seumur hidupku. Apa aku jatuh cinta? Ntahlah.. sepertinya begitu. Semakin hari aku semakin tersiksa dengan perasaan ini, aku menangis dalam keheningan malam-malamku. Dadaku terasa sesak bila terus-terusan sepeti ini, cinta pertama yang kualami terasa menyesakkan. Bukan hanya perasaanku, tapi semua yang aku punya untuk mencintai Kak Alfath, semuanya terasa sakit. Kembali aku berdoa pada shalat tahajud yang aku lakukan,

“Maha Suci Allah.. Engkau yang tau perasaan hamba, sungguh sampai detik ini, hamba tidak bisa berhenti memikirkan Kak Alfath,” tanpa kusadari air mata jatuh tepat dimukena putih yang aku kenakan. “Apa hamba salah jika hamba mengharapkan Kak Alfath mempunyai perasaan yang sama? Apa hamba terlalu egois jika hamba berpikir seperti itu? Tunjukan jalanmu Ya Allah..”

Tidak bisa memiliki orang yang kusayang, terlebih lagi ini cinta pertamaku, itu sangat menyedihkan. Apa yang harus kulakukan agar Kak Alfath bisa sedikit membuka hatinya untukku?

Kurang lebih beberapa hari ini aku mencari tau informasi tentang Kak Alfath melalui teman-teman seangkatannya. Kini aku tau, perempuan seperti apa yang bisa menarik hatinya. Aku memulai dengan merubah penampilanku menjadi lebih feminim, semua orang tau aku bukan perempuan yang bisa dikatakan feminim, bahkan sangat jauh dari itu, aku lebih sering memakai rok sekarang, walaupun itu tidak nyaman untukku, tapi kalau dipikir dengan akal sehat, memang bagus merubah diri menjadi yang lebih baik, karna kodrat seorang perempuan harus seperti itu.

Malam ini aku memberanikan diri untuk menanyakan suatu pada Kak Alfath melalui sms yang aku kirimkan padanya, aku juga bukan perempuan yang suka berlama-lama berbasa-basi. Ini sms yang aku kirimkan,

“Kak, apa kakak udah punya pacar?”. Seketika aku merasa bodoh menanyakan hal itu, tapi inilah tujuan utamaku. Azzna bodoh.. apa kamu siap dengan jawaban Kak Alfath nantinya? Bagaimana kalau jawabannya hanya membuat kamu semakin sakit? Apa yang akan kamu lakukan? Menangis dan terus-terusan mengadu pada Sang pemberi hidup? Bisikku pada diriku sendiri. Dengan perasaaan kacau aku menunggu balasan dari Kak Alfath. Getar Hpku menghentikan segala pertanyaan aneh yang meraung-raung meminta jawaban diotakku. Bismillah.... sembari membuka sms itu,

“Iya, kakak sudah punya pacar dik, dikampung.” Degggg.... kali ini bukan lagi sakit yang aku rasa, tapi rasa nyeri yang tidak terkendali, aku merasa berdosa telah menyukai dan berharap pada orang yang notabene sudah menjadi pacar perempuan lain. Air mataku sekejap bercucuran menolak kenyataan ini. Apa aku menyesal bertanya seperti ini? Kenapa aku harus menanyakan hal ini? Kenapa Kak Alfath tidak mengerti perasaanku? Kenapa semuanya tidak berpihak padaku? Berbagai kata ‘kenapa’ memenuhi otakku kini. Sms ini tidak aku lanjutkan, aku tidak mau mendengar pernyataan selanjutnya yang akan Kak Alfath ucapkan. Aku hanya ingin tidur, yahh.. dengan tidur aku bisa melupakan smuanya, sakit hati, air mata, semuanya...

Paginya aku kembali terbangun, tepat setengah empat pagi aku mengambil air wudhu. Shalat tahajudku kali ini terasa berbeda, karna mataku sedikit terjanggal, mataku terlihat sangat sembab, efek dari tangisan semalam. Tiba saatnya aku memanjatkan doa seusai shalat,

“Engkaulah tempat terbaik untuk mengadu, hanya Engkau penenang hati dan jiwaku saat ini, Ya Allah kenyataan ini sungguh sangat menyakitkan, hamba mencintai Kak Alfath sebesar yang Engkau ketahui, atas dasar keridhoanmu, hamba bisa mencintainya seperti ini. Sepenuhnya hamba titipkan cintaku pada-Mu, lindungilah Kak Alfath...”
Satu minggu setelah itu, aku mendapati kabar bahwa ayahku harus berpindah kerja di Jambi, aku dan keluargaku terpaksa ikut pindah, dan kuliahku juga harus terhenti, mungkin aku memang harus memulainya dikota lain, karena ayah akan menetap kerja di Jambi, jadi aku tidak takut lagi memulainya dari nol.

Masih ada waktu untuk aku menulis surat untuk Kak Alfath, karna hanya dia yang pertama kali kuingat sebelum perpindahanku.

Paginya pukul tujuh, Airin teman dekatku dikampus kerumah, seperti halnya seorang sahabat, ia menemuiku mengucapkan salam perpisahan sebelum ia pergi kuliah. Tidak lupa aku menitipkan suratku itu pada Airin, Airin yang mengerti benar bagaimana awal cerita aku membenci hingga menyukai Kak Alfath sekaligus sahabat terbaik yang aku miliki.

Mobil avanza berwarna silver milik Om’ku sudah datang, Om’ku yang akan mengantarkan aku dan keluargaku menuju bandara Balikpapan. Pelukan hangat dari Airin membuatku tenang.
“Hati-hati Na.. jaga dirimu baik-baik.. .” ucap Airin padaku dengan mata berkaca-kaca.
“Iya Rin, jangan nangis ach.. makin jelek tau.” Balasku dengan tetap terlihat cool.
“Sakit ya Na..”
“Aku baik, makanya selalu doakan aku supaya selalu baik agar kita bisa bertemu lagi esok.” Kataku dengan sedikit menahan tangis, meski aku tau yang Airin maksud memang bukan fisikku, melainkan sakit hatiku.

Tepat setengah delapan Aku dan keluargaku berangkat.
Sekarang aku sudah berada dipersimpangan Bontang, Airin pasti sudah bertemu dengan Kak Alfath dan memberikan suratku.

“Assalamualaikum Kak Alfath...
Memory otakku seolah tidak berhenti memutar setiap kenangan tentang Kak Alfath sewaktu aku menulis surat ini. ‘Muhamamad Aqil Al Fatih’.. mungkin ini kali pertama aku menyebut nama kakak, dan aku tidak pernah berharap menjadi yang terakhir kalinya, karna aku berkeinginan suatu saat nanti tepat dihadapan kakak, aku bisa menyebutkan nama kakak dengan lengkap, walaupun hal itu dirasa sulit, karna bahkan aku tidak tau bisa bertemu kakak lagi atau tidak.

Kakak tentu ingat pertama kali aku meminta izin ingin memanggil kakak ‘bintang’..? pada saat itulah aku merasakan perasaan itu, perasaan yang mungkin orang biasa menyebutnya dengan cinta.. . aku cukup senang bisa mengenal kakak, tidak ada sedikitpun penyesalan yang aku rasa. Sampai akhirnya aku tau sudah ada perempuan beruntung yang memiliki kakak. Sumpah, demi tiap tetes air mataku, aku berat menerima kenyataan itu, kenyataan yang menghancurkan hati dan jiwaku. Satu detik dimana aku rasa, aku telah benar-benar mencintai kakak. Tapi ada hal yang paling rendah dan berdosa, yaitu kalau aku iri dengan perempuan yang sudah memiliki hati kakak. Aku sadar, hidup itu pilihan, sama seperti cinta, aku bisa memilih melupakan kakak atau tidak sama sekali, dan dua-duanya tetap ada resiko. Aku hanya ingin melupakan hal yang bisa aku lupakan dan tidak ingin memaksakan diri untuk melupakan hal yang sulit untuk lupakan, dan itu kakak.

Jangan timbulkan pertanyaan knapa aku menyukai kakak, karna sampai nafasku berhenti berhembus, aku tidak akan pernah mengetahui alasan knapa aku menyukai kakak, aku hanya tau sebuah rasa yang tulus ialah seonggok rasa yang tidak beralasan.
Kakak sepeti malaikat untukku, malaikat yang sedikit banyak sudah mengajarkan arti kedewasaan, mengikhlaskan sesuatu yang belum berpihak padaku, berubah menjadi yang lebih baik, dan semuanya. Terimakasih dan maaf.
Wassalam... .”

Dering HP menghentikan lamunanku. ‘Airin’.. . ada apa dia meneleponku.
“Hallo, assalamualaikum ..” ucapku.
“Walaikumsalam.. .Azzna, aku mohon sekarang kamu putar balik, Kak Aqil ingin menemuimu.” Dengan suara yang terdengar terdesa-desa.
“Tapi....”
“Aku mohon. ..” pinta Airin. “Hanya kali ini, aku yakin keluargamu akan mengerti.”

Lima menit lamanya aku berhasil membujuk orang tua dan Om’ku. Setelah setengah jam perjalanan, aku sampai diKampus, karna tadi Airin sempat sms menyuruhku langsung ke Kampus. Jantungku berdegup kencang sekali. Didepan salah satu ruangan, aku melangkahkan kakiku perlahan. Banyak orang disana, terlihat Airin menghampiriku.
“Azzna..,..” kemudian Airin terdiam.

Langkah kakiku membuat orang-orang disana beralih melihat kearahku. Aku melihat seorang laki-laki terbaring lemah ditengah-tengah rerumunan orang yang sekarang melihat kearahku. Aku mendekati laki-laki itu, jantungku tidak lagi berdegup kencang, tapi serasa berhenti melihat laki-laki yang sekarang sudah berada didepanku. ‘Kak Alfath’.. . wajahnya terlihat aneh.
‘Sabar Na..,’ aku seperti mendengar sayup-sayup suara Airin, dan beberapa isakan tangis orang-orang disekitarku.

“Kak Alfath. .. apa kakak kedinginan? Udara sangat panas diluar, dan bukannya kakak pernah cerita kalau kakak sangat menyukai warna coklat? Kakak bilang hampir semua barang-barang yang kakak punya bewarna coklat, tapi knapa sekarang kakak memakai selimut putih ini?” ucapku.

“Kakak juga berbohong hari ini, kakak juga cerita kalau kakak suka sekali dengan jus jeruk, bahkan kakak bilang selalu menolak jika diberi minuman selain jus jeruk, lalu kenapa air yang menempel dibibir kakak bewarna merah? Itu seperti bukan warna jus jeruk.”

Aku berusaha sedikit mendekatkan telingaku pada hidung mancung Kak Alfath, dan memejamkan mataku, mencoba merasakan hembusan nafasnya.
“Kak, knapa kakak menahan nafas seperti ini? Tolong jawab kak.” Kataku sambil menahan tangis.

“Setelah membaca suratmu, Kak Aqil sudah berusaha mengejarmu Jan, Kak Aqil bilang, dia hanya ingin mendengar smuanya langsung dari kamu, tapi takdir berkata lain, motor yang dipakai Kak Aqil oleng dan smuanya terjadi. Semuanya terlambat sebelum dibawa ke Rumah Sakit.” Ucap Airin dengan sedikit terisak.
Kali ini tangisku benar-benar pecah. .. Aku memang sudah sepenuhnya menitipkan cintaku Pada-Nya.. Kak Alfath pergi untuk selamanya.. .

Universitas Fakultas Ekonomi, Jakarta – 03 September 2009
“Apa lu kata? Emang gua anak kurang mampu, gua disini hanya dapet beasiswa, namun setidaknya lu hargai gua dong!!” sentak Putri.

Aku pun melerai perkelahian putri dengan Alyska. Memang Putri dan Alyska berbeda 3600. Putri sangat kaya hatinya namun sangat miskin hartanya. Berbeda dengan Alyska. Alyska sangat kaya hartanya namun sangat miskin hatinya. Disini aku tidak memihak pada Putri maupun Alyska. Aku hanya ingin mengajak mereka berdamai.

Tak lama kemudian, Bu Asri datang. Gayanya lengak lengok karena masih muda. Umurnya hanya 32 tahun menjadi dosen Fakultas ekonomi. Bu Asri tergolong disiplin, apabila ditemuinya ada mahasiswa/wi tidur saat pelajarannya maka dia akan dihukum membersihkan kamar mandi.

Rasa kantukku sudah terlanjur membara. Tak kuat aku menahan rasa kantuk yang begitu kurasakan. Sampai akhirnya ku mulai perjalanan tidurku. Saat ku mulai perjalanan tidurku, aku bermimpi, “Dimana aku??” Seruku

“Kau ada didekat rumah Aristoteles.” Jawab seorang pemuda tampan
Aku terkejut, aku sedang ebrada dijaman Aristoteles penemu rumus lingkaran yang terkenal tersebut. Aku semakin tak menyangka, alat alatnya masih sangat tradisional sehingga aku tak dapat mengerti cara penggunaannya. Tiba tiba aku merasa hujan badai menyirami sekitar rumah Aristoteles. Dan ternyata aku terbangun. Bu Asri mengetahui kalau aku sedang tertidur.

Akupun dihukum untuk membersihkan kamar mandi. Rasanya males banget aku. Namun kulakukan semua dengan ikhlas. Aku terkejut saat Hendra, teman baikku dating untuk membantu aku. Awalnya aku tak mau membuat Hendra kecapekan gara gara aku.
Hendra, teman baikku sangat kaya, baik hati, tidak sombong, tak seperti cowok ideal lainnya, Hendra memiliki kekurangan di pigmen. Kondisi genetisnya tak sempurna, menyebabka organisme dalam tubuhnya tak bias membentuk pigmen. Dia terlahir sebagai manusia Albino.

Mall, Kelapa Gading – 03 September 2009 ; 19:23
“Eh, eh lihat ada bule!” Sorak anak anak kecil yang lewat.
Hati Hendra merasa gentar. Namun aku kuatkan iman Hendra untuk tabah menghadapi kekurangan dalam hidup kita. Memang tubuh Hendra seperti Bule yang habis nyebur dari kolam salju, namun hal itu tak mengurangi rasa persahabatanku dengan Hendra.
“Kita makan yuk,” ajakku.

Aku dan Hendra makan di KFC, tiba tiba dilayar LCD yang terdapat di KFC memunculkan video klip lagu Chrisye “Seperti Yang Kau Minta”. Nafsu makan Hendra hilanglah sudah. Memang lagu itu menceritakan ada seorang cowok albini mendamba cinta seorang cewek yang diidamkannya. Sedih rasanya hati Hendra. Karena terlalu sedih Hendra pingsan. Aku segera menelfon papanya dan dibawanya cepat ke rumah sakit.

Rumah Sakit Ciputat – 03 September 2009; 21:47
“Hendra harus mendapatkan perawatan di Singapura karena peralatan disana sudah tergolong modern.” Kata Dokter
Hendra menderita depresi dan kanker pigmen. Sehingga Hendra harus dirawat di Singapura.

Bandara Soekarno-Hatta – 04 September 2009
Aku mengikuti saat saat perpisahanku dengan Hendra dibandara. Aku sanagt prihatin dengan keadaannya. Aku berdoa supaya Tuhan menyembuhkan Hendra dari segala penyakitnya. Perpisahaan Aku dan Hendra sangat mengharukan.

Universitas Fakultas Ekonomi, Jakarta – 05 September 2009
Aku mulai petualanganku tanpa Hendra. Aku mulai menjurus pada pasangan hidupku. Namun taka da seorangpun yang kuanggap cocok. Berhari – hari kumerenung, rasa tak enak menyelimuti hidupku. Akhirnya ku temukan cewek yang kuanggap cocok bagiku. Vita namanya
Vita, cewek umur 21 tahun sangat bersahaja, baik, pintar, tidak sombong,dsb. Aku punmeminta nomor HP, alamat rumah, Pin BB, Facebook, Twitter, Ymail dsb. Namun berita yang begitu mencekam yaitu bahwa Hendra telah tiada. Hendra mengalami kecelakaan pesawat saat menuju ke Singapura. Aku merasa kaget saat berita itu sampai ditelingaku. Akupun sudah belajar banyak dari Hendra untuk menerima kekuranganku.

Rumah Paman-06 September 2009; 07:30
“Ayo ikut paman ke Amsterdam! Paman mau tinggal disana menemani Opa kamu!”
Akupun menyetujui hal tersebut. Aku meminta izin dari orang tuaku ternyata merweka berdua setuju.Akupun langsung berangkat ke Amsterdam minggu siang itu juga. Ku teringat Vita, ku kubur dalam dalam perasaanku dengan Vita dank u mulai hidup yang baru di Amsterdam.

Amsterdam – 07 September 2009; 09:12
Pagi yang sangat mempesona bagiku. Ku mulai kebiasaan yang jauh berbeda dari kebiasaan hidupku di Indonesia. Udara segar dan pemandangan cantik didepanku langsung membuat hatiku terpanah. Rasanya aku tak akan berdecak kagum. Ku mulai petualangan di Amsterdam, Belanda.

Aku meminta izin kepada paman untuk berjalan jalan ke dam Square. Disana biasanya para remaja berkumpul dengan teman temannya. Aku pun sekalian mecari pasangan hidup bagiku. Kumelihat keramaian kota itu. Aku memandang ada seorang cewek yang sedang memetik bunga. Aku mendekatinay,

“Hello! Hoe gaat het? Wie is je naam? tanyaku
Cewek itu tertawa geli. Mungkin karena aku baru beradaptai dengan lingkungan disana.
Namun dia menjawab, “ Nami kula Rosita Angelina”
Apa???? Seorang keturunan Belanda bisa bahasa Jawa?

Setelah dijelaskan ternyata Rosita Angelina adalah keturunan Suriname yang diasingkan pada saat jaman penjajahan Belanda. Aku baru tahu bahwa dia keturunan Suriname yang tinggal di Amsterdam.

Rumah Opa – 07 September 2009; 21:22
Aku tertidur lelap dan bermimpi, ”Sebuah mobil Ferrari meluncur dengan aku di dalamnya pada perjalanan menuju lokasi pertemuan relasi. Lengkap dengan sopir pribadi, music jazz dan ditemani dengan secangkir kopi, ku baca naskah presentasi di laptop mini yang sengaja kubawa dalam perjalanan pagi ini. Aku tak perlu bekerja terlalu keras untuk mendulang rupiah, posisiku sebagai Vice Presiden, cukup membuatku disegani dan hanya perlu tanda tangan berkas di sana-sini, jutaan rupiah sudah kukantongi. Selain uang dan wanita, kemewahan pasti datang sendiri.”

Teras – 08 September 2009; 07:23
Tiba – tiba terjadi Badai besar, menerjang Amsterdam. Aku pun takut. Namun aku selamat dalam badai itu. Namun Rosita hilang tak ada kabar.Aku takut untuk meninggalkan dirinya. Aku berpikir, betapa malangnya nasib Hendra untuk tidak merasakan moleukul cinta dalam hidupnya.

Setelah badai, Turun hujan yang sangat indah, Aku termenung diam. Namun aku harus tetap tabah menghadapi hidup ini alau cobaan tetap menanti.

“Demi ibu, menikahlah nak!”

Kata-kata ibu menyapa relung kalbu Nadi, lembut tapi menusuk. Tak kuasa menahan rasa, ia tersungkur dihamparan sajadah. Menikah? Adalah hal yang tak pernah terpikir bahkan terlintas dibenaknya. Ia masih ingin mereguk lautan ilmu yang makin dalam makin ingin ia selami. Tapi, menolak keinginan ibu adalah hal yang tak termaafkan baginya. Terpisahnya jarak, ruang dan waktu dengan ibu. Membuat Nadi tak bisa berkilah. Ibu yang kian hari kian parah karena penyakit asma yang dideritanya. Namun, apa daya kasih tak sampai. Di batasi oleh lautan yang membelah. Membelah jarak dan hati Nadi. Permintaan ibu atau ilmu? Nadi diam.

“Semalam ustad Irsyad melamarmu. Dia tidak membatasi, kau bebas memilih. Sekarang segala keputusan ada di tanganmu nak!” ujar ayah dari seberang sana sebelum mengahiri pembicaraan.
Pilihan yang sulit. Memilih atau tidak, sama-sama memiliki risiko. Sebab Allah adalah penulis skenario terhebat. Manusia tidak bisa memilih peran apa yang akan dimainkannya. Dalam lembar demi lembar kisah hidupnya. Seperti Nadi, di hadapkan pada pilihan yang sulit.

“Apakah ini ahir dari kisah seorang Nadi Ya Allah? Apakah harus berahir di denyut nadi ini? Aku bahkan tak mengenalnya, tapi aku juga tak ingin melukai nadiku (ibu) sendiri. Dan nadi ini hanya berdetak jauh lebih cepat ketika menatapnya, Faqih.” ungkapnya lirih.

Bedug Ashar bergema seantero kompleks. Adzan berkumandang bersaut-sautan. Nadi baru akan melangkah menaiki tangga masjid. Namun, sosok rupawan itu telah menawannya. Sosok itu juga menatapnya, seraya membingkiskan seutas senyum untuknya, hanya untuk Nadi. Buru-buru Nadi menarik pandangannya. Sosok itu, sosok yang membuat nadinya berpacu dari biasanya. Sosok itu adalah Fakih. Berkecimpungnya Nadi dalam sebuah organisasi masjid mempertemukannya dengan Fakih. Sosok yang ia kagumi walau tak begitu ia ketahui. Ingin sekali, gadis itu mengenalnya lebih jauh. Namun, karakter Nadi yang pemalu membuat dia harus meredam perasaan itu, jauh dipalung hati yang terdalam. Berulang kali Nadi meyakinkan dirinya sendiri, biarlah cinta ini hanya berdenyut di ujung nadi. Walau pada ahirnya, Nadi sadar kalau ternyata menahan cinta di ujung nadi jauh lebih sakit daripada menahan luka di nadi.

Nadi meraih HPnya. Ada pesan yang masuk. Buru-buru si mata coklat itu membukanya.
“Ayahanda?” Alis bak bulan sabit bertaut sedemikian rupa. Tanpa melewatkan satu karakter sekalipun Nadi membaca SMS dari ayahnya.

Nak,...
Tadi malam ibumu, kambuh lagi
Engkau telah dewasa, engkau bisa menentukan langkah
Engkau pilih surga ataupun neraka
Hanya engkau penerang kami untuk sampai pada cahaya
Menikahlah nak! Penuhi permintaan ibumu!
Bulir hangat mengalir dipelupuk mata. Nadi tersungkur dihamparan sejadah.
“Ku sujudkan seraut wajah tak berharga ini Ya Allah, hanya padaMu aku meminta jawab dari segala tanya. Kalau ini adalah jawaban dari Istikhoroh hamba, hamba mohon kokohkan hati hamba”. Nadi menangis di shubuh teduh.

“Aku tidak tau apa artinya cinta, pada ahirnya aku merasakannya. Aku tidak tau apa artinya di junjung cinta, pada ahirnya aku mendapatkannya. Aku tidak mengerti bagaimana berenang di samudra ilmu, pada ahirnya aku mereguknya. Tapi, aku hanya meminta satu cinta pada Pencipta, dan aku sedang menanti-Nya.” Sedesah gundah terdengar di ujung sana.

“Cinta tidak memperbaharui diri menjadi kebiasaan dan berbalik menjadi perbudakan. Ketika aku mencintai dirimu sesungguhnya aku sedang mencintai diriku sendiri dalam dirimu. Ketika hatimu digelayuti getir ragu. Pintalah! Jawab pada sang pemilik hati! Pecinta yang Maha Tinggi. Semoga apapun keputusanmu, Allah telah mengokohkan hatimu, hanya bersamamu.” Nadi tersenyum sebelum menutup telfon. Entah, mengapa walau belum pernah bersua. Nadi seakan telah mengenal sosok ini, Irsyad.

Bedug Magrib bertalu membahana. Merambat ke cakrawala. Rapat pengurus masjid baru usai beberapa menit yang lalu. Nadi khusuk berdo’a setelah adzan berkumandang.
“Ya, Allah. Tunjukkan aku pada langkahku, pada hatiku, pada cintaku, di bawah Rahman dan Rahimmu.” Pintanya lirih berbalut mukena putih.

“Masyaallah!!! Handphone aku mana???” Nadi kelabakan. Mata coklat itu sibuk memeriksa tiap inci dalam tasnya. Nihil. Tidak menemukan benda yang dicari.

“Jangan-jangan ketinggalan di masjid. Aduh...aku kok jadi pikun begini?” sesalnya sambil menepuk jidat. Buru-buru gadis itu menuju masjid yang berjarak sekitar 150 meter dari rumahnya. Masih berbalutkan mukena putih bermotif bunga-bunga dia melangkah dengan cepat. Nadi menyipitkan mata. Sosok itu dikenalnya. Tapi, bukan itu. Benda dalam genggaman yang ditempelkan ke telinganya. Mata itu membelalak. “Itu kan HP aku,” ucapnya membatin.
“ Iya, pak. Nanti biar Irsyad sampaikan.” Nadi mendekat. Nafasnya tercekat. Apa maksudnya, Irsyad? Tanda tanya berkelindan di otaknya. Fakih terperanjat kaget. Dia baru sadar kehadiran gadis itu.

“Nadi,” sapa Fakih. Nadi diam.
“Maaf, tadi HP kamu jatuh pas rapat. Mau aku panggil, kamu sudah ke tempat wudhu. Lagi pula tadi sudah bedug, makanya aku pikir habis shalat saja. Eh, taunya kamu sudah pulang duluan.” Paparnya panjang lebar seraya menyodorkan HP Nadi. Jemari halus itu menyambutnya, walau mulutnya terkunci diam seribu bahasa.

“Tadi, ayah kamu menelfon.” Nadi mengerutkan kening.
“Beliau tanya, inikah jawabanmu nak?” kali ini mata coklat itu membelalak. Fakih tersenyum mantap.

“Ya,” sambungnya.
Jder, ada gelegar kecil di kepala Nadi. Dan dia tau nadinya kini berpacu dua ribu kali lipat lebih cepat dari biasanya. Tapi, apa maksudnya? Lagi-lagi Nadi penasaran.
“Maaf, aku sudah lancang. Namun, sungguh. Ku cintaimu lebih dari yang engkau tau.” Katanya lagi yang membuat Nadi terngangah hebat. Fakih berlalu meninggalkan Nadi yang masih membatang dalam tugu membisu. Bunyi halus dari mesennger membuyarkan lamunannya. Sebuah pesan pendek muncul berkedip-kedip di ujung kiri monitor. Dari seorang bernama, ustad Irsyad.

Bahkan namamu telah terukir di ujung nadiku.
Dengan cinta yang terus bertalu untukmu, Nadi.
Fakih_Irsyad.

Deg, hati Nadi gemuruh. “Apakah ini jawaban dari do’a ku,” pikirnya mendayu. Bahkan Allah punya cara yang sangat istimewa. Ternyata, Fakih dan Irsyad adalah orang yang sama. Banyak tanya yang ingin terlontar dari mulunya. Sejak kapan ia mengenalnya? Darimana Irsyad atau Fakih tau orang tuannya? Apakah Fakih Irsyad teman masa kecilnya? Namun, semua disimpannya rapat dalam derap hati yang tak sabar ingin berucap. Di serambi masjid sana, seorang pria tampan tersenyum untuk Nadi. Wajahnya yang bersih kian berseri di terpa sinar lampu. Lalu, sosok itu menabuh bedug yang bertalu seiring dengan hati mereka yang berpacu. Merambat hingga ke nadi yang berdenyut ingin lebih cepat lagi. Dan cinta ini terus bertalu di ujung nadi.

Kala Takbir Bersenandung Cinta

26 Desember 2004 adalah tanggal terjadinya sebuah peristiwa yang tak dapat sirna dalam hati seluruh warga Kota Banda Aceh. TSUNAMI. Peristiwa itu telah tergores di hati mereka. Dan untuk menghilangkan goresan itu, tidak dapat hanya dengan menggangap sebagai angin yang telah berlalu. Dari sekian banyaknya manusia yang jatuh sebagai korban. Hanya beberapa yang selamat dari bencana itu. Salah satunya adalah Akbar dan Aisha sepasang Kakak beradik yang selamat dari bencana air bah yang dahsyat itu. Saat itu Akbar sedang menjalani studinya di Univeritas Unsyiah Banda Aceh jurusan Akutansi. Sedangkan Aisha Sang Adik adalah pelajar kelas satu SMP. Ketika bencana itu terjadi, mereka terpisah dari kedua Orang tuanya demi menyelamatkan diri. 



Akbar terus berlari sekencang-kencangnya. Segala sesuatu yang ada di depannya tampak ia acuhkan saja. Orang-orang yang sedang berlari dan berjalan di depannya ia tabrak saja. Kedua kakinya sangat lincah berlari. Tangan kanannya terus menggengam tangan seorang remaja putri berjilbab hitam dan mengenakan baju panjang merah yang tak lain adalah Aisha. Aisha yang sedang ia pegang tangan kanannya tampak kesulitan berlari. Sering kali Aisha menghela nafas panjang.

Sesekali Akbar mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia terus melihat pemandangan yang menyedihkan. Pemandangan menyedihkan itu terus terjadi silih berganti. Puluhan kendaraan saling bertabrakan satu sama lain. Kecelakaan itu merupakan kecelakaan beruntun. Mereka berdua terus berlari sangat kencang. Seluruh tenaga mereka kerahkan. Sering kali mereka menghela nafas yang dalam berulang-ulang. Peluh keringat bercucuran tetes demi tetes.

“ Aisha. Kamu harus bisa tetap berlari. Gelombang sudah semakin dekat. Kamu harus bisa Aisha. “ Ia mensupport Aisha yang ia genggam tangannya sambil menunjuk gelombang laut tinggi yang siap mengejar mereka berdua.
“ Tapi Kak, aku tidak kuat lagi. “
“ Aisha, kamu harus kuat! “
“ Tapi Kak, aku lelah “ Ia sedikit mengiba.

“ Kak Akbar aku tak tahan berlari lagi. Biarkan tinggalkan aku saja di sini. Kakak berlari saja. “ Aisha perempuan yang ia genggam tangannya mengeluh.
“ Aisha aku akan berdosa apabila tidak dapat menyelamatkan diriku. Dan engkau akan berdosa andaikan engkau tidak menyelamatkan nyawamu. Kamu hanya menjadi sampah seperti orang yang membunuh dirinya sendiri. “

Aisha menundukkan kepalanya. Hatinya tergerak. Ia segera bangkit dan kembali berlari menyelamatkan diri. Aisha tampak letih setelah berlari jauh. Jilbab panjangnya berkelebat diterpa angin kencang. Kakinya yang dibalut dengan kaus kaki putih polos sudah tampak pincang. Dan kaus kakinya telah kotor bebercak coklat.
Selama berlari mereka berdua terus bertasbih dan bertakbir. Kalimat agung dan suci terus terlontar dari bibir mereka. Mereka berdua sangat panik. Rasa takut dan cemas bergejolak di dalam diri mereka. Tiba-tiba sebuah Truk besar berwarna kuning hendak melintas di depan mereka. Akbar segera melepas genggaman Aisha dan segera menghentikan mobil Truk Kuning itu. Truk itu seketika berhenti. Akbar segera menuju bangku supir.

“ Pak bisakah kami menumpang mobil Bapak? “
Seorang lelaki besar berkulit hitam dibangku supir terdiam.
“ Pak saya mohon “ Akbar mengiba.
“ Dik, Truk kami tidak memiliki banyak bangku “
“ Apakah di bak belakang tidak bisa? Saya mohon Pak “
“ Baiklah tapi hanya satu orang saja yang boleh ikut karena di bak belakang sudah penuh dengan barang “
“ Baiklah “
Akbar segera menyuruh Aisha naik.
“ Kak aku tidak mau “
“ Kenapa? “
“ Aku hanya mau dengan kakak “ “ Aisha kakak mohon. Naiklah. Jika kita berdua selamat, Insya Allah kita akan dapat bertemu kembali. Dan apabila tidak. Percayalah. Insya Allah Kita akan digolongkan sebagai Syuhada, berperang demi menyelamatkan nyawa sendiri “

Aisha menitikkan air matanya. Ia mematung di dalam bak Truk yang besar itu. Tanpa aba-aba dan sebuah isyarat Truk itu perlahan bergerak dan semakin lama semakin kencang. Aisha melambaikan tangan kanannya kepada Sang Kakak tercinta. Air mata tak dapat ia bendung. Air mata itu tumpah membanjiri kedua pipinya yang halus dan putih. Setelah memastikan Truk itu berjalan cukup jauh. Akbar kembali berlari menyelamatkan dirinya.

****

Hari telah sore. Langit telah melepas jubah birunya. Dan memulai merajut warna jingga. Matahari mulai merangkak ke ufuk Barat. Waktu akan berganti. Pemandangan menyedihkan terlihat di seluruh Kota. Rasa sedih masih menyelimuti seluruh warganya. Tumpahan air mata terjadi di mana-mana. Masjid besar Baiturrahman yang berada di Pusat Kota Banda Aceh itu tampak dikerumuni ribuan manusia. Waktu Ashar tiba. Adzan berkumandang dari seluruh penjuru masjid. Mendengar suara Adzan itu, ia kembali tak kuasa membendung air matanya. Aliran air mata membekas di pipinya. Ia tidak tahu akan keberadaan sang Kakak tercinta. Yang telah berhasil menyelamatkan nyawanya.

Tanpa Aisha sadari. Sang Kakak tercinta selamat dari bahaya Tsunami yang sangat ganas itu. Dan sekarang Kakak tercintanya itu berada di tempat yang sama dengan Aisha. Akbar yang telah lama di Masjid itu segera menuju ke ruang wudhu. Ia segera mensucikan dirinya, untuk bersembah diri kepada sang Pencipta. Ia berjalan menembus ribuan orang yang memadati jalan menuju ruang wudhu. Dan subhanallah. Dalam rentak langkahnya untuk mensucikan diri. Ia melihat sosok Sang Adik di hadapannya. Dan spontan saja.

“ Aisha. Engkaukah itu? “ sebuah kalimat singkat dan padat terlontar dari bibirnya.

Sang Adik yang berdiri di hadapan Kakaknya itu hanya menganggukkan sedikit kepalanya yang berada di dalam balutan jilbab hitam panjangnya. Semula ia hanya diam. Dan perlahan dari bibirnya, sebuah senyum kecil lahir dengan jelas. Ia segera berlari menuju tempat sang Kakak berdiri. Dengan erat ia memeluk Kakaknya.

Setelah berjuang dengan keras menyelamatkan diri, berperang dengan waktu. Akhirnya mereka berdua dapat kembali bertemu dan bersama kembali. Suara Adzan yang berkumandang dari seluruh penjuru Masjid akhirnya mempertemukan mereka berdua. Sebuah Alunan Takbir Cinta dengan halusnya mempertemukan Seorang Kakak dengan Adik tercintanya yang semula terpisah.

Pengorbanan Cinta Kembar

REMBULAN di kota Semarang tengkurap sendirian, bintang-bintang entah kemana perginya. Kabut begitu jahil menyelimuti, membuat pucat wajah sang dewi malam. Jarum jam begitu lambat berjalan sesekali suara jangkrik terdengar mengiringi hujan yang membasahi bumi dewi termenung dikamar berdinding biru muda. Pikirannya melayang pada sahabatnya wulan yang berpisah waktu tamat smp. Sepertinya aku tak sanggup untuk berpisah dengannya karena hari-hariku selalu dihabiskan waktu dengannya.

Semakin hari yang dilewati hanya perasaan cemas terselubunng dihatiku tanda akan perpisahan tiba, dewi berkata mengapa aku tak bisa melupakan hari menjelang perpisahan dengannya. Beberapa tahun setelah perpisahan, aku hanya sendiri disekolah tanpa aku sadari berputarnya waktu aku dapat melupakannya. meskipun kami berpisah selama enam tahun aku tidak pernah melupakannya, walaupun keberadaan kami saling berjauhan tapi hal itu tidak akan menghalangi persahabatan aku dengannya seluas samuderapun perpisahan itu aku tetap menanti kehadiranmu.

Pagi-pagi telepon berbunyi kring….kring..kring dewipun berlari dari kamarnya untuk mengangkat telepon ‘’asalamualaikum, ini siapa ya? Ah wi sekarang kamu lupa ya sama aku, ini wulan. ‘’Hai… wulan gimana kabar kamu sekarang dan mama kamu? Wi sekarang aku hanya tinggal sama kakak aku, mama aku udah meninggal dua minggu yang lalu. Innalillahirojiun aku baru tahu maaf ya lan buat kamu sedih. Tidak apa-apa wi sekarang aku udah ikhlas kepergian mama aku, sekarang udah semester berapa kuliahnya? Udah semester tiga.’’ Kalau kamu lanjut kuliah dimana? Sekarang aku kerja jaga butik mamaku, mungkin setahu lagi baru aku lanjutkan kuliah di bandung. Eh ya kapan kita kumpul lagi seperti dulu? Mungkin tunggu kamu libur kali ya aku bisa pulang kesana’’. Janji ya iya!

Waktu berputar begitu cepat sampai-sampai aku tak menyadari bahwa umurku udah sewajarnya untuk menikah, tapi aku tak akan berpengaruh sama temanku yang udah banyak merid, udah beberapa teman smaku menikah ada yang tunangan, nikah dan ada yang udah dikaruniai momongan. Aku tidak peduli itu semua aku hanya mikir untuk menyelesaikan kuliahku, mencari kerjaan dan membahagiakan urang tuaku. Aku sadari bahwa hidup orang tuaku sederhana yang mencukupi untuk kebutuhan hidupku, hanya itulah misi hidupku.

Malam manyelimuti matahari yang menyinari siang hari begitu cepat hari berputar siang malam terus berganti, suasana mala mini aku termangu kesendirian hanya lampu yang redup diteras rumahku yang menemani kesunyian hatiku. Beberapa hari lagi aku akan libur semester menyambut pagi yang menyegarkan tubuhku. Aku gembira karena mendapat kabar wulan akan pulang rasanya libur ini menyenangkan karena ada yang menemani hari liburku. Beberapa hari kemudian…’’ hari yang aku tunggupun tiba siang ini aku akan berjumpa dengan wulan. Sekitar jam 12.30 aku ke air port menjembut wulan, setelah sampai disana aku lanhsung bertemu didepan pintu ulan ternyata kamu berubah ya semakin cantik.’’ Ah kamu bisa aja.’’ Ayo sekarang kamu tinggal dirumahku ya dari pada dipenginapan sendirian. Ya terserah kamu aja deh. Di dalam perjalanan kita saling bercanda dan cerita tentang kehidupannya disana, samapi dirumah wulan langsung menuju kekamar tamu untuk istirahat.

Setelah istirahat wulan keluar dari kamar, aku masih nonton sendiri tiba-tiba wulan duduk disampingku. Mama kamu mana dari tadi ngak kelihatan wi? Oh mama aku biasa pergi pagi pulang sore, apalagi papaku pulangnya larut malam, maka dari itu aku kesunyian dirumah hanya ada aku dan bik inah pembantu pengasuhku. Oh gitu aku bisa kasi saran kekamu lebih baik kamu cari pacar aja biar ngak kesepian.’’ Asal bicara kamu ya kan sudah dari dulu aku belum memikirkan itu kamu sendiri aja belum ada pacar ngurusin orang. Jangan salah kamu wi, oh ya aku lupa kasi tau kalau aku sudah tunangan dua bulan. Serius lo..!

Dewi hamper kanget mendengar cerita dari sahabatnya, maka itu wi kamu cepat- cepat berhenti kamu cerita aku ngak mau dengar lan.’’ Dewi…dewi dari dulu kamu selalu begitu sekarang aku serius ingin menjodohkan kamu dengan sahabat kuliahku dia kembar wi orangnya lumayan dan dari keluarga baik-baik pokoknya kalau kamu kenalan sama dia kamu beruntung deh wi apalagi melanjutkan hubungannya dengan serius . karena dia kemarin minta bantuan untuk carikan cewek. Ya aku bilang aja ada yaitu kamu wi gimana?’’

Malam ini aku akan kasi nomor telepon kamu ya ke dia? Ngak usahlah lan aku ngak mau sama cowok yang kembar, nanti tertukar lagi. Coba kenalan aja dulu mana tau setelah ketemu ada jodoh. Ah gawur kamu dari dulu hobinya becanda melulu apa ngak bosan.’’ Tapi ini serius wi aku mau kamu seperti aku ada yang nemanin nggak seperti ini kalau sendirian pasti kamu bosankan karena teman kamu semuanya sudah ada pasangan, aku hanya ingin membantu kamu wi.

Malam itu aku masih duduk disofa ruang keluarga nonton teve tapi papa dan mamaku belum juga pulang, karena jam menunjukkan pukul 10.00 aku membangunkan wulan untuk segera masuk kamar dan akupun segera ke kekamar. Sinar matahari merasuk ruang kamar dewi, menandakan hari sudah pagi dewi membuka lebar-lebar jendela ruang tidurnya dan menyibakkan tirai putih transparan.

Angin leluasa memainkan rambutnya yang ikal. Sementara mata bulatnya berkejap-kejap memandang kehijauan yang menghampar halaman depan rumah penuh dengan bunga mawar yang bermekaran menghiasi taman. Aku segera keluar rumah dan menghirup udara segar, ternyata papa dan mama sudah pergi ke kantor beginilah hari-hari yang kulewati, libur atau tidaknya aku tetap sendirian. Lama-lama aku teringat pembicaraan sahabatku itu ada benar juga tapi aku malu mangatakan kepadanya kalau aku setuju untuk kenalan sama teman dia. Tiba-tiba suara nyanyian hapku menyadari aku dari lamunan. Hai benar ini dengan dewi?’’
Ini siapa sih, dari mana tau kalau aku dewi?

Maaf mengangu pagi-pagi perkenalkan saya rendi pratama saputra temannya wulan, oh rendi iya wulan pernah cerita tentang kamu, emang dia cerita tentang apa?’’
Ya hanya cerita hobi kamu . terus apa lagi?’’

Ngak perlu dibahaslah tentang itu. Wi ulannya mana?’’ masih tidur, ada perlu ya kalau gitu aku pangilkan ya. Ngak usah wi aku perlunya sama kamu. Ya sekarang cepat mau perlu apa?’’

Tiba-tiba kamu nelpon sama siapa? Kata wulan secara spontan dewi menjawab sama rendi.
Ternyata kamu setuju ya sama aku sini telponnya aku mau bicara sama rendi. Ren gimana udah kenalankan ? ya besok rencananya aku mau kesana untuk bertemu dengannya habis penasaran ngak puas hanya dengar suaranya saja.kamu memang begitu dari dulu, tapi aku kasi tau sama kamu kalau dewi adalah perempuan yang susah untuk jatuh cinta tapi kalau sudah akrab dia tak akan melepaskannya begitu saja ingat ren pesan aku jangan pernah kamu kecewakan sahabat baik aku. Iya ulan imut.’’

Sampai di airport rendi nelpon wulan untuk segera menjemputnya, hanya beberapa menit wulan sampai, rendi merasa jantungnya begitu cepat karena melihat sesosok gadis berjalan disamping temannya itu, hai ren sudah lama sampainya?’’ udah dari tadi aku tunggu baru jam ini kalian jemput. Ya maafin deh terlambat, oh… ya ini sahabatku namanya dewi sesuaikan apa yang aku ceritakan sama kamu?’’ i..ya lan. Kenapa kamu ren tiba-tiba aja kamu gugup?’’

Ngak apa-apa lan hanya kaget aja. Iya aku ngerti sama kamu. Diperjalanan kita ngobrol sama rendi. Rencana berapa lama kamu kesini?
Mungkin dua atau tiga hari. Rumah kamu sunyi ya apa ngak ada orang wi?’’ iya memang udah biasa seperti ini hanya aku dan pembantu dirumah orang tua aku kerja didalam seminggu aja dua hari dirumah sehabisnya keluar kota.beginilah kehidupan aku semuanya sendiri, tapi libur ini aku ada kalian menemani aku. Gimana kalau kamu ikut sama kita aja ke bandung, kita liburan bersama dan disana aku akan kenalkan kamu sama kembaran aku randi gimana?’’ iya wi kamu ikut ya lusa kita berangkat kan liburan kamu lama lagi dari pada libur sendirian dirumah lebih baik ikut kita. Okey lah nanti aku akan nelpon mama untuk minta izin, biasanya mama tidak keberatan kalau aku pergi. yang penting ada teman.

Dua haripun berlalu dewi bersiap-siap merapikan pakaiannya dan keperluannya yang lain, hati ini gembira rasanya bisa berkumpul sama sahabat lama tak aku sangka akan diberi kesempatan seperti ini. Hari semakin siang ketika aku berada diudara ini pengalaman aku sebenarnya aku samasekali belum pernah ke bandung, kesempatan ini tidak akan kusia-siakan sampai disana aku akan mengelilingi kota bandung. Kicauan burung begitu merdu mengucapkan selamat datang hari yang cerah menyambut kedatanganku untuk pertama kalinya. Aku penasaran dengan randi seperti apa ya dia.

Menjelang sore kita baru sampai dirumah wulan diperjalanan kita berpisah dengan randi karena rumahnya hanya dipisah dengan gang. Gimana wi capek ngak? Iya nih lumayan mungkin karena pertama kali, gimana sekarang kita kerumah rendi akan aku kenalkan sama orang tuanya dan adiknya. Bentar lagilah lan kitakan baru sampai, nanti sore aja kenapa? Ya ngak apa-apa. Tiba pukul 5.00 kami berjalan menghirup udara bebas yang nyaman ketika didepan rumah rendi duduk di kursi taman ren.. ternyata dewi salah yang dia panggil kembaran rendi. Eh mbak ulan cari rendi ya? Iya ran disamping mbak itu siapa?’’ oh ya kenalkan ini dewi sahabatnya mbak dan teman abang kamu juga masuk mbak mungkin rendi lagi mandi, sebentar ya aku pangil mbak duduk aja disini dulu. Iya terima kasih’’.

Kenapa perasaan ku aneh ya ketika melihat tamannya mbak ulan rasanya ada yang berbeda yang sudah lama tak pernah aku rasakan semenjak aku bersama rasti mantan pacar aku dulu. Kak re n ada teman kamu tunggu ditaman, rendi secepatnya melangkahkan kaki menuju pintu depan hai lan, wi udah lama nunggunya? Baru aja sampai ren.’’

Adik kamu mana ren? Belum lama rendi panggil ran.. randi kesini yuk ngumpul kemana ya randi bentar ya aku masuk ternyata randi kamu kenapa ran, ma..mama randi pingsan ma..! ternyata penyakitnya kambuh kembali. Sekarang cepat kamu angkat randi kita bawa kerumah sakit. Ran sadar nak mama ngak mau ditinggal kamu sekarang. Ma sabar ya ma randi pasti sehat sekarang kita berdoa aja agar randi cepat sadar. Memangnya adik kamu sakit apa rend kata dewi? Dia semenjak smp sudah mengalami penyakit leukemia dan dari dulu tiap beberapa bulan pasti masuk kerumah sakit, sekarang aja sudah stadium tiga. Sekarang kita jenguk randi dia sudah sadar sekarang. Ran ini kakak kamu sekarang ngak apa-apakan?’’ iyakan kepala randi hanya sedikit pusing dewi mana kak? Ni dewi dan ada mbak ulan juga.

Kenapa ya kak ketika melihat dewi perasaan randi sama dengan pertama kali randi mengenal mantan aku dulu.?’’ Mungkin kalian jodoh kali .

Ulan di mana-mana kamu bercanda terus. Beberapa minggu randi berada dirumah sakit dewi terus menemaninya, rendi sepertinya ada perasaan cemburu kalau melihat mereka lagi berdua diruang sana tapi aku sadar tak sepantasnya aku begitu sama adikku yang lagi sakit, aku tau dewi adalah perempuan tipe adiknya. Ren kamu sendiri disini mana dewi? Dewi didalam, kenapa kamu sendiri disini? Aku ngak mau nganggu mereka , maksud kamu randi suka sama dewi?’’

Aku rasa iya! Terus gimana sama kamu? Aku ngak apa-apa asalkan randi bahagia, aku ikhlas meskipun dari pertama aku sudah mencintai dewi dan ingin segera melanjutkan hubungan ini tahap serius, aku akan bahagia jika adikku bahagia. Dua hari lagi randi akan keluar ruamah sakit ketika itu juga dia jujur, kak re nada yang ingin aku bicarakan. Apa itu? Aku jujur dari pertama berjumpa sama dewi aku suka sama dia kak dan aku ingin menikahinya? Iya kakak setuju aja kan dewi perempuan yang baik tapi apa tidak begitu cepat ran ingin menikahinya? Mungkin menurut kakak cepat tapi aku takut, mungkin hidupku tak akan lama lagi kak, ran kamu jangan bicara seperti itu kalau dengar mama pasti sedih, mama kan udah lama ditinggal sama papa jadi mama hanya ada kita berdua. Kakak akan bicara sama mama soal ini dan kamu udah bicara sama dewi, apa dia mau? Belum kak aku takut kalau dia marah kareana diakan suka sama kakak. Nanti kakak beritahu pasti dia juga sama kamu wajah kitakan sama.

Dewi yang mendengar berita ini terkejut dan merasa ragu, aku tidak pernah menyangka lan dari sebuah pertemuan yang amat biasa, tercipta bias-bias rindu yang menyesakkan, bayangkan dari sebuah hubungan perjodohan bisa seperti ini dan aku akan segera menikah dengan rendi. Setelah seluruh keluarga berkumpul antara keluarga dewi dan randi akhirnya setuju atas keputusan bersama dan hari itu juga mereka menetapkan hari pernikahan mereka. Mendengar itu semua hanya perasaan sedih dilubuk hati rendi melepaskan gadis yang dicintainya demi kebahagiaan adiknya.

Tanpa disadari sudah terlewati beberapa bulan pernikahan ini randi begitu bahagia. Stelah dilewati bersama dewi melahirkan bayi laki-laki yang tampan sepeti ayahnya semakin ramailah rumah yang sepi akan menyambut kedatangan bayi munggil. Seminggu dilewati hari kebahagiaan, ketika randi mencium anaknya randi pingsan penyakitnya kambuh lagi dan kali ini dewi, rendi dan seluruh keluarganya akan kehilangan randi untuk selamanya.


Kala Takbir Bersenandung Cinta

Cerpen Cinta Islami Terbaru 2011, Cerpen Cinta Islami26 Desember 2004 adalah tanggal terjadinya sebuah peristiwa yang tak dapat sirna dalam hati seluruh warga Kota Banda Aceh. TSUNAMI. Peristiwa itu telah tergores di hati mereka. Dan untuk menghilangkan goresan itu, tidak dapat hanya dengan menggangap sebagai angin yang telah berlalu. Dari sekian banyaknya manusia yang jatuh sebagai korban. Hanya beberapa yang selamat dari bencana itu. Salah satunya adalah Akbar dan Aisha sepasang Kakak beradik yang selamat dari bencana air bah yang dahsyat itu. Saat itu Akbar sedang menjalani studinya di Univeritas Unsyiah Banda Aceh jurusan Akutansi. Sedangkan Aisha Sang Adik adalah pelajar kelas satu SMP. Ketika bencana itu terjadi, mereka terpisah dari kedua Orang tuanya demi menyelamatkan diri.


Pada mulanya Aisha merasa ada suatu hal yang janggal pada hari itu. Aisha Sang Adik terlihat terus menerus gelisah. Akbar, Kakak kandung Aisha merasa heran melihat sikap Adiknya. Tak biasanya ia melihat Sang Adik diam terus menerus dan bisu seribu bahasa. Ternyata, tanpa ia sadari sikap Adiknya yang ia sayangi itu merupakan sebuah tanda akan terjadi sebuah Bencana besar di hari itu. Sebuah Gelombang Laut yang tinggi masuk ke Kota dan memporak-porandakan seisi Kota. Mengetahui itu Akbar dan Aisha segera berlari menyelamatkan diri. Karena waktu hanya sedikit. Dengan berat hati dan linangan air mata. Akbar dan Aisha berlari menyelamatkan diri, tanpa memberitahu kedua Orang Tua yang sangat ia sayangi.

Akbar terus berlari sekencang-kencangnya. Segala sesuatu yang ada di depannya tampak ia acuhkan saja. Orang-orang yang sedang berlari dan berjalan di depannya ia tabrak saja. Kedua kakinya sangat lincah berlari. Tangan kanannya terus menggengam tangan seorang remaja putri berjilbab hitam dan mengenakan baju panjang merah yang tak lain adalah Aisha. Aisha yang sedang ia pegang tangan kanannya tampak kesulitan berlari. Sering kali Aisha menghela nafas panjang.

Sesekali Akbar mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia terus melihat pemandangan yang menyedihkan. Pemandangan menyedihkan itu terus terjadi silih berganti. Puluhan kendaraan saling bertabrakan satu sama lain. Kecelakaan itu merupakan kecelakaan beruntun. Mereka berdua terus berlari sangat kencang. Seluruh tenaga mereka kerahkan. Sering kali mereka menghela nafas yang dalam berulang-ulang. Peluh keringat bercucuran tetes demi tetes.

“ Aisha. Kamu harus bisa tetap berlari. Gelombang sudah semakin dekat. Kamu harus bisa Aisha. “ Ia mensupport Aisha yang ia genggam tangannya sambil menunjuk gelombang laut tinggi yang siap mengejar mereka berdua.
“ Tapi Kak, aku tidak kuat lagi. “
“ Aisha, kamu harus kuat! “
“ Tapi Kak, aku lelah “ Ia sedikit mengiba.

“ Kak Akbar aku tak tahan berlari lagi. Biarkan tinggalkan aku saja di sini. Kakak berlari saja. “ Aisha perempuan yang ia genggam tangannya mengeluh.
“ Aisha aku akan berdosa apabila tidak dapat menyelamatkan diriku. Dan engkau akan berdosa andaikan engkau tidak menyelamatkan nyawamu. Kamu hanya menjadi sampah seperti orang yang membunuh dirinya sendiri. “

Aisha menundukkan kepalanya. Hatinya tergerak. Ia segera bangkit dan kembali berlari menyelamatkan diri. Aisha tampak letih setelah berlari jauh. Jilbab panjangnya berkelebat diterpa angin kencang. Kakinya yang dibalut dengan kaus kaki putih polos sudah tampak pincang. Dan kaus kakinya telah kotor bebercak coklat.
Selama berlari mereka berdua terus bertasbih dan bertakbir. Kalimat agung dan suci terus terlontar dari bibir mereka. Mereka berdua sangat panik. Rasa takut dan cemas bergejolak di dalam diri mereka. Tiba-tiba sebuah Truk besar berwarna kuning hendak melintas di depan mereka. Akbar segera melepas genggaman Aisha dan segera menghentikan mobil Truk Kuning itu. Truk itu seketika berhenti. Akbar segera menuju bangku supir.

“ Pak bisakah kami menumpang mobil Bapak? “
Seorang lelaki besar berkulit hitam dibangku supir terdiam.
“ Pak saya mohon “ Akbar mengiba.
“ Dik, Truk kami tidak memiliki banyak bangku “
“ Apakah di bak belakang tidak bisa? Saya mohon Pak “
“ Baiklah tapi hanya satu orang saja yang boleh ikut karena di bak belakang sudah penuh dengan barang “
“ Baiklah “
Akbar segera menyuruh Aisha naik.
“ Kak aku tidak mau “
“ Kenapa? “
“ Aku hanya mau dengan kakak “ “ Aisha kakak mohon. Naiklah. Jika kita berdua selamat, Insya Allah kita akan dapat bertemu kembali. Dan apabila tidak. Percayalah. Insya Allah Kita akan digolongkan sebagai Syuhada, berperang demi menyelamatkan nyawa sendiri “

Aisha menitikkan air matanya. Ia mematung di dalam bak Truk yang besar itu. Tanpa aba-aba dan sebuah isyarat Truk itu perlahan bergerak dan semakin lama semakin kencang. Aisha melambaikan tangan kanannya kepada Sang Kakak tercinta. Air mata tak dapat ia bendung. Air mata itu tumpah membanjiri kedua pipinya yang halus dan putih. Setelah memastikan Truk itu berjalan cukup jauh. Akbar kembali berlari menyelamatkan dirinya.

****

Hari telah sore. Langit telah melepas jubah birunya. Dan memulai merajut warna jingga. Matahari mulai merangkak ke ufuk Barat. Waktu akan berganti. Pemandangan menyedihkan terlihat di seluruh Kota. Rasa sedih masih menyelimuti seluruh warganya. Tumpahan air mata terjadi di mana-mana. Masjid besar Baiturrahman yang berada di Pusat Kota Banda Aceh itu tampak dikerumuni ribuan manusia. Waktu Ashar tiba. Adzan berkumandang dari seluruh penjuru masjid. Mendengar suara Adzan itu, ia kembali tak kuasa membendung air matanya. Aliran air mata membekas di pipinya. Ia tidak tahu akan keberadaan sang Kakak tercinta. Yang telah berhasil menyelamatkan nyawanya.

Tanpa Aisha sadari. Sang Kakak tercinta selamat dari bahaya Tsunami yang sangat ganas itu. Dan sekarang Kakak tercintanya itu berada di tempat yang sama dengan Aisha. Akbar yang telah lama di Masjid itu segera menuju ke ruang wudhu. Ia segera mensucikan dirinya, untuk bersembah diri kepada sang Pencipta. Ia berjalan menembus ribuan orang yang memadati jalan menuju ruang wudhu. Dan subhanallah. Dalam rentak langkahnya untuk mensucikan diri. Ia melihat sosok Sang Adik di hadapannya. Dan spontan saja.

“ Aisha. Engkaukah itu? “ sebuah kalimat singkat dan padat terlontar dari bibirnya.

Sang Adik yang berdiri di hadapan Kakaknya itu hanya menganggukkan sedikit kepalanya yang berada di dalam balutan jilbab hitam panjangnya. Semula ia hanya diam. Dan perlahan dari bibirnya, sebuah senyum kecil lahir dengan jelas. Ia segera berlari menuju tempat sang Kakak berdiri. Dengan erat ia memeluk Kakaknya.

Setelah berjuang dengan keras menyelamatkan diri, berperang dengan waktu. Akhirnya mereka berdua dapat kembali bertemu dan bersama kembali. Suara Adzan yang berkumandang dari seluruh penjuru Masjid akhirnya mempertemukan mereka berdua. Sebuah Alunan Takbir Cinta dengan halusnya mempertemukan Seorang Kakak dengan Adik tercintanya yang semula terpisah.



Kala Takbir Bersenandung Cinta

26 Desember 2004 adalah tanggal terjadinya sebuah peristiwa yang tak dapat sirna dalam hati seluruh warga Kota Banda Aceh. TSUNAMI. Peristiwa itu telah tergores di hati mereka. Dan untuk menghilangkan goresan itu, tidak dapat hanya dengan menggangap sebagai angin yang telah berlalu. Dari sekian banyaknya manusia yang jatuh sebagai korban. Hanya beberapa yang selamat dari bencana itu. Salah satunya adalah Akbar dan Aisha sepasang Kakak beradik yang selamat dari bencana air bah yang dahsyat itu. Saat itu Akbar sedang menjalani studinya di Univeritas Unsyiah Banda Aceh jurusan Akutansi. Sedangkan Aisha Sang Adik adalah pelajar kelas satu SMP. Ketika bencana itu terjadi, mereka terpisah dari kedua Orang tuanya demi menyelamatkan diri.


Pada mulanya Aisha merasa ada suatu hal yang janggal pada hari itu. Aisha Sang Adik terlihat terus menerus gelisah. Akbar, Kakak kandung Aisha merasa heran melihat sikap Adiknya. Tak biasanya ia melihat Sang Adik diam terus menerus dan bisu seribu bahasa. Ternyata, tanpa ia sadari sikap Adiknya yang ia sayangi itu merupakan sebuah tanda akan terjadi sebuah Bencana besar di hari itu. Sebuah Gelombang Laut yang tinggi masuk ke Kota dan memporak-porandakan seisi Kota. Mengetahui itu Akbar dan Aisha segera berlari menyelamatkan diri. Karena waktu hanya sedikit. Dengan berat hati dan linangan air mata. Akbar dan Aisha berlari menyelamatkan diri, tanpa memberitahu kedua Orang Tua yang sangat ia sayangi.

Akbar terus berlari sekencang-kencangnya. Segala sesuatu yang ada di depannya tampak ia acuhkan saja. Orang-orang yang sedang berlari dan berjalan di depannya ia tabrak saja. Kedua kakinya sangat lincah berlari. Tangan kanannya terus menggengam tangan seorang remaja putri berjilbab hitam dan mengenakan baju panjang merah yang tak lain adalah Aisha. Aisha yang sedang ia pegang tangan kanannya tampak kesulitan berlari. Sering kali Aisha menghela nafas panjang.

Sesekali Akbar mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia terus melihat pemandangan yang menyedihkan. Pemandangan menyedihkan itu terus terjadi silih berganti. Puluhan kendaraan saling bertabrakan satu sama lain. Kecelakaan itu merupakan kecelakaan beruntun. Mereka berdua terus berlari sangat kencang. Seluruh tenaga mereka kerahkan. Sering kali mereka menghela nafas yang dalam berulang-ulang. Peluh keringat bercucuran tetes demi tetes.

“ Aisha. Kamu harus bisa tetap berlari. Gelombang sudah semakin dekat. Kamu harus bisa Aisha. “ Ia mensupport Aisha yang ia genggam tangannya sambil menunjuk gelombang laut tinggi yang siap mengejar mereka berdua.
“ Tapi Kak, aku tidak kuat lagi. “
“ Aisha, kamu harus kuat! “
“ Tapi Kak, aku lelah “ Ia sedikit mengiba.

“ Kak Akbar aku tak tahan berlari lagi. Biarkan tinggalkan aku saja di sini. Kakak berlari saja. “ Aisha perempuan yang ia genggam tangannya mengeluh.
“ Aisha aku akan berdosa apabila tidak dapat menyelamatkan diriku. Dan engkau akan berdosa andaikan engkau tidak menyelamatkan nyawamu. Kamu hanya menjadi sampah seperti orang yang membunuh dirinya sendiri. “

Aisha menundukkan kepalanya. Hatinya tergerak. Ia segera bangkit dan kembali berlari menyelamatkan diri. Aisha tampak letih setelah berlari jauh. Jilbab panjangnya berkelebat diterpa angin kencang. Kakinya yang dibalut dengan kaus kaki putih polos sudah tampak pincang. Dan kaus kakinya telah kotor bebercak coklat.
Selama berlari mereka berdua terus bertasbih dan bertakbir. Kalimat agung dan suci terus terlontar dari bibir mereka. Mereka berdua sangat panik. Rasa takut dan cemas bergejolak di dalam diri mereka. Tiba-tiba sebuah Truk besar berwarna kuning hendak melintas di depan mereka. Akbar segera melepas genggaman Aisha dan segera menghentikan mobil Truk Kuning itu. Truk itu seketika berhenti. Akbar segera menuju bangku supir.

“ Pak bisakah kami menumpang mobil Bapak? “
Seorang lelaki besar berkulit hitam dibangku supir terdiam.
“ Pak saya mohon “ Akbar mengiba.
“ Dik, Truk kami tidak memiliki banyak bangku “
“ Apakah di bak belakang tidak bisa? Saya mohon Pak “
“ Baiklah tapi hanya satu orang saja yang boleh ikut karena di bak belakang sudah penuh dengan barang “
“ Baiklah “
Akbar segera menyuruh Aisha naik.
“ Kak aku tidak mau “
“ Kenapa? “
“ Aku hanya mau dengan kakak “ “ Aisha kakak mohon. Naiklah. Jika kita berdua selamat, Insya Allah kita akan dapat bertemu kembali. Dan apabila tidak. Percayalah. Insya Allah Kita akan digolongkan sebagai Syuhada, berperang demi menyelamatkan nyawa sendiri “

Aisha menitikkan air matanya. Ia mematung di dalam bak Truk yang besar itu. Tanpa aba-aba dan sebuah isyarat Truk itu perlahan bergerak dan semakin lama semakin kencang. Aisha melambaikan tangan kanannya kepada Sang Kakak tercinta. Air mata tak dapat ia bendung. Air mata itu tumpah membanjiri kedua pipinya yang halus dan putih. Setelah memastikan Truk itu berjalan cukup jauh. Akbar kembali berlari menyelamatkan dirinya.

****

Hari telah sore. Langit telah melepas jubah birunya. Dan memulai merajut warna jingga. Matahari mulai merangkak ke ufuk Barat. Waktu akan berganti. Pemandangan menyedihkan terlihat di seluruh Kota. Rasa sedih masih menyelimuti seluruh warganya. Tumpahan air mata terjadi di mana-mana. Masjid besar Baiturrahman yang berada di Pusat Kota Banda Aceh itu tampak dikerumuni ribuan manusia. Waktu Ashar tiba. Adzan berkumandang dari seluruh penjuru masjid. Mendengar suara Adzan itu, ia kembali tak kuasa membendung air matanya. Aliran air mata membekas di pipinya. Ia tidak tahu akan keberadaan sang Kakak tercinta. Yang telah berhasil menyelamatkan nyawanya.

Tanpa Aisha sadari. Sang Kakak tercinta selamat dari bahaya Tsunami yang sangat ganas itu. Dan sekarang Kakak tercintanya itu berada di tempat yang sama dengan Aisha. Akbar yang telah lama di Masjid itu segera menuju ke ruang wudhu. Ia segera mensucikan dirinya, untuk bersembah diri kepada sang Pencipta. Ia berjalan menembus ribuan orang yang memadati jalan menuju ruang wudhu. Dan subhanallah. Dalam rentak langkahnya untuk mensucikan diri. Ia melihat sosok Sang Adik di hadapannya. Dan spontan saja.

“ Aisha. Engkaukah itu? “ sebuah kalimat singkat dan padat terlontar dari bibirnya.

Sang Adik yang berdiri di hadapan Kakaknya itu hanya menganggukkan sedikit kepalanya yang berada di dalam balutan jilbab hitam panjangnya. Semula ia hanya diam. Dan perlahan dari bibirnya, sebuah senyum kecil lahir dengan jelas. Ia segera berlari menuju tempat sang Kakak berdiri. Dengan erat ia memeluk Kakaknya.

Setelah berjuang dengan keras menyelamatkan diri, berperang dengan waktu. Akhirnya mereka berdua dapat kembali bertemu dan bersama kembali. Suara Adzan yang berkumandang dari seluruh penjuru Masjid akhirnya mempertemukan mereka berdua. Sebuah Alunan Takbir Cinta dengan halusnya mempertemukan Seorang Kakak dengan Adik tercintanya yang semula terpisah.


Tanpa Kekasih


Setalah genap sebulan aku jadian dengan Bayu, aku semakin yakin kalau aku nggak salah pilih dan benar-benar sudah menemukan belahan jiwaku, cinta sejatiku, cahaya hidupku, Bayu adalah segalanya bagiku. Aku mencinta dia dan akan selalu menyayangi dia untuk selamanya. Saat ini aku merasa puas karena penantian, dan usahaku selama ini berbuah kebahagiaan.

Telah sekian lama aku merasa menanti Bayu menjadi milikku seutuhnya. Akhirnya, cerita cintaku saat ini sudah happy ending, tingal sekarang aku dan Bayu yang menjalaninya. Dulu kami sering sekali bertengkar, hanya karena hal-hal kecil, kadang kami sampai ribut nggak menentu. Dulu sebagai teman, kami memang bukan teman yang cocok, kami saling menjatuhkan dan saling membenci. Tapi sekarang, benar kata orang-orang, kalau kamu membenci seseorang janganlah kamu sampai terlalu, dan hasilnya sekarang perasaan itu menjadi kebalikan bagi aku dan Bayu, justru kami sekarang saling mencintai dan menyayangi. Tapi yang jelas, aku juga nggak mau kehilangan Bayu, aku takut juga kalau aku terlalu mencintai dan menyayangi dia, bisa jadi aku dan dia akan terpisahkan.


“Hei Ela, kamu lagi ngapain? aku kangen deh sama kamu..”
“Halo Bayu, kan baru kemarin kita ketemu, kamu gimana sih?”
“Ela, kamu baik-baik ya di sana, jaga diri kamu dan jangan pernah lupakan aku ya sayang.”

“Kamu ngomong apa sih Bayu? Kamu ngigau ya?”
“Nggak, maksud aku yah kamu jangan macam-macam di sana, kan di kampus kamu banyak banget tuh cowok-cowok keren, ntar ada yang godain kamu lagi, trus kamu lupain aku.”
“Ha-ha.....ha-ha.... ya nggak dong sayang, aku nggak akan tergoda sama cowok-cowok di kampus ini, nggak ada yang kayak kamu di sini, dan yang aku mau tuh cuma kamu seorang.”

“Hei, kamu udah pintar ngegombal yah, siapa yang ajarin, ayo ngaku?”
“Bayu, kamu apaan sih?! Udah deh, aku mau kamu kasih aku kepercayaan untuk berteman dengan teman-temanku. Asal kamu tau aku berterima kasih banget selama ini sama Tuhan karena aku udah bisa memiliki kamu.”
“Iya Ela, dan asal kamu tau juga cintaku lebih besar dari yang pernah kamu bayangkan selama ini.”

Satu hal inilah yang selalu ditakutkan Bayu, dia selalu bilang aku akan tergoda oleh cowok-cowok di kampus, sementara aku nggak begitu? Justru akulah yang paling takut Bayu yang akan berpaling dariku, dia akan pergi meninggalkanku selamanya, dan cintanya hilang untukku. Bayu sekarang kerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di kota ini, sebagai cowok kalau kita melihatnya dengan kesan pertama, dia adalah cowok yang diimpi-impikan semua cewek, karena Bayu punya segalanya, dengan modal wajah yang tampan, prilaku yang baik, kerja yang mapan, akupun takut dia akan pergi dariku, kalau seandainya ada cewek yang lebih menarik dariku, lebih sederajat dengan dia.

Bayu menggenggam tanganku erat sekali, aku merasakan kenyamanan saat dia memegang tanganku. Aku merasakan cintanya begitu kuat untukku. Saat kami masuk ke sebuah toko buku, Bayu bilang dia akan membelikan aku sebuah buku sastra yang dulu sudah pernah dibacanya dan sekrang dia ingin aku juga membaca buku itu. Setelah Bayu membayar buku tersebut, Bayu langsung menyerahkannya padaku. Aku kaget membaca sinopsisnya, ternyata buku itu berisi tentang kekuatan cinta yang tulus, yang akhirnya terpisahkan oleh maut, dan bagaimana sakitnya hati seorang kekasih saat menghadapi peristiwa kematian itu.

“Bayu, kenapa kamu kasih aku buku kayak gini?”
“Ela, aku pengen banget kamu baca buku ini, karena kalau kamu baca buku ini, kamu bakal lebih mengerti lagi apa itu cinta sejati, kamu akan merasakan betapa sangat berartinya orang yang mencintai kamu, pokoknya ceritanya bagus deh, kamu pasti nggak bakalan nyesal kalau baca buku ini, dan setelah membacanya, aku juga yakin kamu akan semakin sayang sama aku, he-he... he-he ...”
“Ih, kamu!! Ke-GR-an banget sih kamu, masa cuma gara-gara baca buku ini aku bisa semakin sayang sama kamu.”

“Eh, benaran, percaya deh sama aku. Kalau nggak, ntar kamu boleh musuhin aku lagi deh kayak dulu.”

“Bayu!! Kamu ngomong apaan sih, ya udah-udah, aku baca bukunya, kamu kira aku bakalan senang yah kalau kita musuhan lagi.”

Bayu aneh sekali hari ini. Tadi siang dia ngomong yang nggak-nggak di telpon, dan malam ini dia juga menyuruhku membaca buku yang isinya aneh, tentang kematian. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, kata kematian terasa terngiang-ngiang di telingaku. Entah kenapa aku semakin ketakutan, takut akan kematian, takut akan kehilangan. Peganganku semakin aku kuatkan ke pinggang Bayu, aku peluk pungungnya dan aku sandarkan wajahku ke sana. Aku merasakan lagi kalau aku bersama Bayu, saat ini mungkin Bayu sedang tersenyum karena dia merasakan cintaku besar untuknya.

Sambil mengenderai motornya, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihatku, Bayu seperti orang yang was-was. Aneh, di sepanjang jalan aku terus kepikiran. Dan akhirnya bunyi keras dan goncangan hebat membuat aku kaget, nggak hanya goncangan, tapi sakit yang luar biasa di kepalaku, aku merasakan pusing serasa dunia ini berputar sangat kencang sekali, penglihatanku kabur, aku berusaha untuk menyadarkan diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba aku melihat Bayu yang sedang tidur di jalanan, samar-samar aku melihat dia seolah-olah tidur nyenyak, aku merasa mimpi, mana mungkin Bayu tidur di jalan, perasaan baru tadi aku boncengan dengan dia. Aku berjalan mendekati dia, tapi orang-orang yang ramai lebih dulu menghampiri dia, aku semakin kesakitan, aku nggak kuat lagi dan akhirnya yang aku lihat hanya kegelapan.

“Ela, kamu nggak apa-apa sayang, ini Mama.”
Aku pandangi wajah Mama. Dia seperti orang yang ketakutan, aku melihat sekelilingku, tiba-tiba aku baru sadar, selintas kejadian tadi malam teringat lagi olehku.
“Ma, Bayu mana? Dia baik-baik aja kan?”
“Ela, nanti aja, kamu istirahat dulu, kamu masih sakit sayang.”
“Nggak Ma, Ela nggak merasa sakit apa-apa, sekarang Ela mau lihat Bayu, dimana dia Ma?”
“Ela, luka kamu belum kering betul, tadi kamu terus-terusan ngigau kalau kamu ngerasain sakit.”
“Ma, Ela nggak ngerasa sakit, benaran, nggak tau kenapa Ela ngerasa sehat dan kuat Ma, sekarang pokoknya Ela mau ketemu Bayu, pasti saat ini dia butuhin Ela banget.”
“Ela, saat ini Bayu nggak butuh siapa-siapa lagi, dia udah aman Ela, dia udah tenang di sana, sekarang udah bahagia dengan kehidupannya sendiri, ada yang menjaga dia di sana.”
“Apa? Apa Ma, maksud Mama? Mama bohong!! Ela nggak percaya, nggak mungkin, nggak mungkin itu terjadi sama Bayu, dia udah janji Ma nggak akan pernah ninggalin Ela, dia sayang Ela, Ela sayang Bayu Ma .... nggak, nggak mungkin....

Teriakanku membuat semua suster datang ke tempatku, mereka berusaha menenangkanku, tapi aku nggak bisa, air mataku mengalir terus tiada hentinya, salah seorang suster baru saja akan memberiku suntikan penenang, tapi cepat-cepat aku elakkan.
“Tolong jangan suster, saat ini aku nggak butuh itu, aku hanya ingin menangis, aku nggak rela, aku marah sama Bayu, kenapa dia berani pergi ninggalin aku, padahal dulu dia udah janji nggak akan pernah pergi dariku, tapi kenapa Bayu bohong, kenapa sekarang justru dia pergi selamanya, dan aku tau dia nggak akan pernah kembali lagi kan untukku? Kenapa kamu tinggalin aku Bayu?”

“Ela, ini udah takdirnya, waktu Bayu udah habis di dunia, kamu jangan pernah marah sama Bayu sayang. Kamu harus yakin kalau sekarang Bayu udah bahagia di sana.”
“Ma, kenapa justru Bayu, kenapa buka Ela aja yang ada di sana? Ela mau kok Ma, Menggantikan Bayu, karena Ela sayang sama Bayu Ma, atau biarkan Ela untuk bersama dia sekarang, Ela pengen menyusul dia Ma, Ela nggak mau hidup di dunia ini tanpa dia, percuma Ma, percuma kalau nggak ada Bayu di sini, hidup Ela nggak ada arti apa-apa.”

Dengan cepat suster-suster itu memegang seluruh tubuhku, dan sesaat kemudian aku tertidur, di alam mimpi Bayu datang padaku. Dengan pakaian yang serba putih Bayu tersenyum padaku, dia berjalan mendekatiku, dia kelihatan senang sekali, seolah-olah dia mendapatkan kebahagiaan yang baru, yang tiada duanya di dunia, melihat Bayu terus-terusan tersenyum, rasanya aku ingin sekali ikut bersama dia, ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Aku berusaha memeluknya dan menggenggam tangannya, dia membalas pelukanku, dia mendekapku, kembali aku meerasakan kenyamanan bersamanya, aku merasakan dia memberiku kekuatan, ketegaran, dia membelai rambutku dengan penuh rasa sayang, tapi pelan-pelan dia melepaskanku, dia justru menjauh dariku, semakin jauh, jauh dan hilang dari penglihatanku.

Saat aku sadar, aku menangis lagi, aku bukan menangis karena menahan sakit pada kepalaku, tapi aku menangis karena hatiku yang terasa amat sakit. Sekarang dunia bagiku terasa kelam, hujan nggak hanya membasahi bumi, tapi hujan membasahi kehidupanku, hatiku seolah-olah nggak berhenti menangis, menangisi orang yang telah pergi untuk selama-lamanya, dia nggak akan pernah kembali lagi.

Tiba-tiba mataku tertuju pada buku yang ada di atas meja, aku baru ingat kalau itu adalah buku yang dibelikan Bayu kemarin. Aku buka satu demi satu halaman buku itu, beberapa menit kemudian aku tenggelam dalam ceritanya. Aku menangis membaca buku itu, sekilas aku seolah-olah melihat wajah Bayu tersenyum di langit yang mendung di luar sana.

Entah kenapa sekarang aku kembali merasakan kekuatan itu, kekuatan cinta yang diberikan oleh Bayu, aku merasakan dia ada di dekatku, merangkulku, menenangkanku, aku dapat merasakan cinta dan sayangnya. Bayu, aku sangat mencintai dan menyayangi kamu, aku yakin kamu bahagia di sana, walaupun kamu sudah pergi dari kehidupanku, tapi kamu nggak akan pernah pergi dari hatiku, kamu abadi untukku, Bayu. Aku akan buktikan, kematianmu nggak akan pernah mengakhiri cintaku.

                                                Menunggu Keseriusan


“Kia, sebenarnya aku sudah capek, kalo kita kayak gini terus, aku pengen kita berhenti ribut, musuhan dan bertengkar, kamu mau kan?”
“Heh, dengar ya Do, aku sebenarnya juga nggak pengen lagi ribut sama kamu, kamu kira aku juga nggak capek apa?”
“Iya ya, Kia, aku juga pengen bilang ke kamu sesuatu yang selama ini aku pendam, aku pengen ngomong serius sama kamu.”
“Ya udah, ngomong aja, apa?!!!”
“Kia sebenarnya, sejak pertama, sejak dulu sekali aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu........”

“Haa .....?!!!! He-he ....he-he....”
“Kamu jangan ketawa, aku serius, dari dulu aku pendam perasaanku ini ke kamu, dan sekarang aku udah capek, makanya aku bilang aja ke kamu semuanya, kalo dari pertama kita kenal aku suka dan sayang sama kamu, tapi ..tapi... sebagai teman.
Apa-apaan sih si Dado ini, aku benar-benar benci sama dia. Beberapa detik yang lalu baru aja dia bilang kalo dia suka dan sayang sama aku, tapi kenapa sekarang dipertegasnya dengan kata-kata sebagai teman, aku jadi nggak bisa mengartikan dengan jelas, apa yang ada di ahti dia sebenarnya. Tapi mata Dado merah, dia seperti mau nangis, aku juga nggak tau harus jawab apa? Sepatah katapun nggak ada keluar dari mulutku.

Akhirnya aku ninggalin dia, dengan perasaan yang binggung dan masih bimbang, rasanya aku ingin mengungkapkan isi hatiku juga, tapi kenapa justru aku cuma bisa diam? Aneh banget? Andai aja Dado tau kalo aku juga punya perasaan yang sama ke dia, tapi kenapa akhirnya dia malah ngomong sebagai teman ya? Apa mungkin karena tadi aku meresponnya dengan ketawa, aduuuuh ....gimana ini? aku salah, andai aja tadi nggak ngetawain dia ......


Hari-hari pun berlalu, aku dan Dado nggak pernah teguran lagi. Selama ini walopun kami sering berantem, tapi satu yang nggak pernah kami lakukan, yaitu saling diam. Nah, sekarang udah hampir 2 minggu kami berdua nggak pernah ngomong lagi. Entah siapa yang mulai duluan. Yang jelas, aku dan Dado sampe sekarang nggak ada yang mengalah.

Siang ini, aku nggak menyangka melihat pemandangan yang membuat jantungku serasa mau copot. Di cafe itu saat jam istirahat aku melihat Dado lagi duduk berhadapan dengan seorang cewek. Dia bukan karyawan di tempat kami kerja. Aku baru pertama kali ini ngelihat dia. Dia cantik, dan kayaknya mereka lagi asik ngobrol sambil ketawa-ketawa. Aku merasa sakit banget, aku cemburu, patah hati, marah dan benci banget sama mereka. apalagi sama Dado, apa maksudnya kayak gini, baru dua minggu yang lalu dia bilang suka dan sayang sama aku, dan cepat banget dia langsung dekatin cewek lain.

Aku terus mencoba menghindari dari Dado, kadang entah Tuhan yang mungkin mengaturnya, aku dan dia selalu aja selisih jalan, sampe-sampe kadang kami malah tabrakan, dan akhirnya dengan spontan kami langsung menghindar. Aku sebenarnya udah capek banget kalo terus kayak gini terus. Entah kapan masalah ini bakal selesai. Sampai akhirnya, aku dengar berita yang membuat aku kaget. Dado sekarang jadian sama cewek yang waktu itu aku pernah aku liat di cafe. Awalnya aku nggak percaya dan mungkin hatiku nggak bisa terima. Cepat banget rasanya Dado membuang jauh perasaannya dulu buat aku. apa mungkin selama ini dia nggak tulus ke aku?

Beberapa bulan berlalu, aku masih merasa menyesal dengan kejadian yang dulu. aku masih sering merasa sakit kalo aku liat Dado dan pacarnya.

Tapi apa boleh buat, semua udah terjadi, penyesalan selalu pasti datangnya belakangan. Sekarang yang membuatku masih tetap mau satu kerja dengan Dado cuma masa depanku, aku harus mikirin masa depanku juga, aku nggak mau gara-gara cowok hidupku hancur. Walopun sebenarnya jauh di hati kecilku, aku emang udah hancur, sakit, perih dan segala macamnya aku rasakan. Tapi untuk menghibur diriku sendiri, aku juga berhasil membenci Dado sepenuh hatiku. Aku bisa menghilangkan penderitaanku dengan cara membencinya. Yang aku rasa semakin hari aku semakin benci Dado.

Suatu hari, waktu bangun pagi aku ngalamin sesuatu yang lain, dalam pikiranku terlintas wajah Dado. Tiba-tiba hatiku jadi lunak, perasaan benci, kesal, sakit, hilang perlahan-lahan. Rasanya pintu maaf buat Dado udah terbuka lebar, tapi aku nggak tau kenapa aku tiba-tiba jadi selembut ini. Aku yang biasanya keras hati dan keras kepala sekarang terasa lemah dan cengeng banget. Nggak kerasa air mataku jatuh begitu aja, aku menangis sejadi-jadinya, perasaan yang campur aduk bermain di hatiku. Aku mulai menerima Dado di hatiku, aku merasa aku harus memaafkan dia, aku harus ikhlaskan dia buat siapapun, karena yang terjadi selama ini sebenarnya aku nggak pernah rela dia bahagia dengan siapapun, makanya timbul rasa benci di hatiku sendiri yang seharusnya nggak boleh aku rasakan. Aku udah jahat dan berdosa. Maafkan aku Tuhan.

Di tempat kerja, entah kenapa Dado kayak mencoba lagi buat deketin aku. Apa dia merasakan hal yang sama denganku? Dia mulai menegurku, dan tentu aja aku nggak nyuekin dia lagi. Di wajah Dado kelihatan ada rasa heran dan kaget, waktu aku merespon dia. Dia mencoba tersenyum, dan aku pun membalas senyumannya dengan tulus. Bahagia banget rasanya bisa membuat orang senang. Dan emang bahagia juga rasanya bila nggak ada rasa benci dalam hati. Sekarang aku udah bisa ikhlas merelakan Dado dengan cewek itu, dia pasti sangat bahagia kan? Di dalam hati aku coba untuk meminta sama Dado, karena terus terang aku belum berani buat langsung ngomong sama dia. Waktu Dado lagi sendirian dan nggak tau lagi mikiran apa, diam-diam aku menatapnya, aku seolah-olah bertelepati dengan dia dan mengirimkan kata maaf ke telinganya. Aku berdoa, ya Tuhan dia dengarin aku.

Malamnya, waktu aku nunggu jemputanku pulang kerja. Rasanya jantungku mau copot waktu Dado datang tiba-tiba menghampiriku. Spontan mengambil dua tanganku.
“Kia, aku mau minta maaf. Kamu mau kan maafkan aku?”
“........ya.”

“Benar Kia? Kamu udah maafin aku? Sekarang berarti kita temanan lagi donk?”
“........ya, aku juga minta maaf Do.”

“Kia, aku senang banget, akhirnya kita bisa temanan lagi, kamu tau nggak? Udah dua bulan kita nggak teguran.Aku nggak percaya selama ini kamu tahan banget kayak gini, kamu benar-benar keras Kia.”

“Yee .... emang kamu apaan donk? Kalo nggak keras juga? Kamu juga tahan kan, kenapa baru sekarang kamu berani tegur aku lagi, coba?”

Akhirnya, beban yang selama ini aku tanggung terlepaskan juga. Emang waktu yang lumayan lama banget untuk punya musuh di dunia ini. Dua bulan, aku nggak pernah teguran sama Dado. Selama itu juga aku jadi cewek jahat, kasar yang sering nyakitin hati Dado. Nggak cuma Dado sih, teman-teman di sekitarku juga kena getahnya lantaran selama ini mereka juga memaksaku buat memaffkan Dado. Tapi toh, dua bulan itu aku keras banget, dan nggak ada yang bisa meruntuhkan aku kecuali perasaanku tadi pagi yang tiba-tiba aja muncul waktu aku bangun pagi. Emang aneh.

Yang masih bikin aku penasaran, gimana ya kabar Dado sama pacarnya? apa mereka masih pacaran, koq anehnya beberapa minggu terakhir ini Dado pun jarang banget jalan sama cewek itu lagi. Apa mereka udah putus? Aku pun nggak pernah dengarin gosip mereka. Dan tiba-tiba aku tertarik banget buat mengetahuinya.

“Cewek kamu mana Do, koq sekarang aku jarang banget liat kalian jalan bareng?”
“Oo.. Dwi? Kita udah putus. Udah sebulan ini nggak ada komunikasi.”

Jadi mana cewek itu Dwi, cewek yang dibilang teman-temanku mirip banget sama Dado. Dan sering banget digosipkan kalo mereka itu bakalan berjodoh karena wajahnya yang mirip. Waktu aku masih benci sama Dado, aku berpendapat, soal jodoh kan di tangan Tuhan, belum tentu mereka jodoh hanya karena wajahnya mirip. Tapi, aku penasaran kenapa sampe putus. Yang aku amati sih, hubungan mereka kayaknya baik-baik aja. Kayak membaca pikiranku, Dado langsung menjawabnya.

“Dwi bukan cewek yang nggak benar, Kia. Ternyata dia suka mainin perasaan cowok, selain itu dia juga matre. Dwi, juga suka bergaul dengan teman-teman cewek yang nggak benar, suka ngerokok, pergi dugem, aahhh .... segala macamlah. Yang jelas, kayaknya aku nggak pernah bisa mencintainya dari dulu sampe sekarang.”
“Maksud kamu?”

“Ya, dari pertama aku kenal Dwi, aku berusaha keras buat cinta sama dia, tapi kayaknya yang selama ini aku rasa nggak pernah tulus. Aku nggak benar-benar mencintai dia.”
“Trus ....?”

“Ya, trus, berarti selama ini aku udah membohongi dia, aku bohong dengan diriku sendiri, dan aku juga udah bohong sama kamu.”
“Maksud kamu? Apa hubungannya dengan aku?”
Dengan pura-pura bego’ aku terus bertanya ke Dado, dan ...
“Kia, aku masih suka dan sayang sama kamu.”
“Ha-ha .....ha-ha apa? Kamu nggak salah, serius ato bercanda?”
Aduuuh ....... kenapa aku tertawa lagi ya, ya Tuhan mudah-mudahan nggak melenceng deh.

“Bercanda ....!!!”
“Oww, bercanda ya Do? Kirain kamu serius tadi, ha-ha ...ha-ha ...ada-ada aja kamu.”
“Ya udah, aku pulang duluan ya, kamu belum dijemput juga?”
“Nggak tau deh, koq belum dateng ya?”

Beberapa saat suasana antara aku dan Dado jadi canggung. Sumpah, aku benar-benar kaget denger Dado bilang bercanda tadi. Aku mengutuk-ngutuk sendiri dalam hati. Jadinya koq malah kayak dulu sih? Gimana ini? Koq aku juga bego ya. Artinya, sebelum Dado pamit dan mencoba menghidupkan mesin motornya, tiba-tiba spontan aku memanggil dia.

“Dado, kamu sebenarnya serius ato bercanda sih? Kamu marah sama aku?”
“Lho, kenapa aku mesti marah sama kamu? Udah, nggak usah dipikirin, aku cuma bercanda koq.......”

Sekali lagi aku tanya sama kamu ya, kamu serius kan Do dengan perasaan kamu?”
“ ...........”

“Do, ayo jawab, aku benci banget dengan Dado yang kayak ini, kenapa sih Do dari dulu sampe sekarang kamu nggak pernah mau ilangin sifat gengsi dan jaim kamu?”
“Iya, Kia .....aku serius masih suka dan sayang sama kamu, dari dulu aku ngak pernah bisa melupakan kamu, walopun aku sudah mencoba membuka hati buat cewek yang lain. Tapi, entah kenapa aku selalu sayang suma sama kamu. Aku pernah berdoa Kia, moga-moga aja Tuhan mempersatukan aku dan kamu.”
“ .......Do, kenapa kamu susah banget buat ngomong kalo kamu itu sayang dan cinta sama aku?”

“Maaaf aku ya, jujur selama ini aku emang selalu mencoba jaim dan gengsi banget sama kamu. Aku malu, lantaran aku masih ragu dengan perasaan kamu sendiri Kia.
“Nggak Do, asal kamu tau, aku udah sayang banget sama kamu sejak pertama kali kamu bilang suka sama aku. Aku sayang sama kamu sampe sekarang Do.”

Akhirnya, semua udah terbongkar dan nggak ada lagi yang tersembunyi. Akupun udah merasa lega dan tenang banget bisa mengungkapkan isi hatiku selama ini. Ternyata perasaan aku dan Dado selama ini sama, cuma kemunafikan yang jadi penghalang kami. Sekarang setelah tau semuanya. aku bisa merasakan kebahagianaan yang dianugerahkan Tuhan buat aku. Terima kasih Tuhan buat semua ini.


 “Dari jauh doank dia kelihatan cantik, loe buktiin dari deket deeh!” saran Dimas pada Raka yang ngeyel kalau cewek di ujung sana cantik mempesona.
“Mata loe rabun ya? kalo loe nggak percaya buktiin aja sendiri,” kata Raka kesa.
Dimas cuek dengan ucapan Raka barusan, Dimas menuangkan kembali minuman ke gelasnya yang sudah kosong.
“Eh tuh liat, kalo do’i ketawa, aduh manisnya,” kata Raka.

Dimas mengikuti arah telunjuk Raka, dan sekali lagi gadis itu memang nampak anggun. Tapi Dimas nggak yakin kalo dari kedekatan pun dia tetap terlihat anggun seperti itu.
“Katanya sih cewek itu biasanya dari jauh oke, tapi kalo dekat tidak,” kata Dimas.
“Dim, dia kemari,” bisik Raka.


Mereka berdua langsung berpura-pura sibuk dengan ponsel dan buku pelajaran masing-masing. Dimas membuka halaman yang dia tidak tahu maksud dari tulisan yang ada di dalamnya, sedangkan Raka memutar MP3 di ponselnya.


“Sial dia cuma tanya tentang loe,” Raka mengumpat sambil masuk ke kelas dengan nada kesal, karena Dimas menyambutnya dengan ketawa.
“Trus loe bilang apa?” tanya Dimas menyelidiki.
Raka kan suka banget cerita yang aneh-aneh dan suka bikin sensasi yang membuat Dimas kesal.
“Gue bilang aja kalo loe masih jomblo,” jawab Raka santai.
Dimas mau aja ikutan mengumpat dengan apa yang barusan Raka bilang. Tapi Raka itu sahabat yang terlalu baik untuk digituin.
“Yang bener aja loe, dia mana percaya kalo cowok sekeren gue masih jomblo,” kata Dimas seoalh membanggakan dirinya.
Raka mencibir “buktinya?”

Dimas menyaksikan cewek itu dari balik jendela kelasnya. Dimas tau kalau cewek punya mata yang teduh dan dia belum pernah nemuin mata yang seteduh itu. Tapi sayangnya dia terlalu agresif untuk ukuran cowok seperti Dimas. Dimas tidak terlalu suka dengan cewek kaya’ gitu, terlihat over dan cari-cari perhatian. Dan kalau Raka bilang, itu sangat membahayakan posisi Dimas. Kejadian selanjutnya bisa ditebak, seperti tingkah ceweek-cewek sebelumnya.


“Dimas ya?” tanya cewek itu.
Dimas mengangguk tanpa mengangkat kepalanya sembari terus membuka buku cerita Harry Potternya, karena dia tau itu cewek cantiknya Raka, lengkap dengan parfum yang bisa buat kandang sapi jadi wangi banget.
“Boleh gue duduk di sini?” tanyanya.
Dimas menyaksikan tangannya yang lentik menunjuk kursi di sebelahnya. Dimas mengangkatkan kepalanya tanda setuju. Sedangkan buku cerita Harry Potter yang dibukanya itu sudah nggak nyambung lagi dalam otaknya. Cewek ini memang nggak bicara apa-apa, tapi buat Dimas jadi nggak konsen. Semua orang di kantin sekolah ngeliatin mereka. Kalau Raka liat, bisa-bisa Dimas diguyur pakai jus jeruk yang biasa diminumnya.
“Sorry nich, gue duluan, nggak apa kan? Lain kali aja kita ngobrol bareng, kalo gue lagi nggak ada keperluan, Bye,” Dimas berkata dengan menahan untuk nggak membentaknya. Itu kata-kata yang dia gunakan untuk menjauhi cewek yang nggak penting baginya.


Waktu Dimas ngeliat matanya, dia ngerasain sesuatu yang lain, dan Raka benar 100 persen kalau itu cewek tetap cantik kalau dari dekat.
“Hem.......em ......em, tapi kalo jurus gue jitu pasti besok dia nggak akan ganggu gue lagi, tapi kalo buat gadis ini gue nggak mau jurus gue jitu,” batin Dimas.



“Raka tolongin gue donk,” pinta Dimas.
Raka terkekeh dengan memegang perutnya nggak sopan. Dimas kesal banget dengan tingkah Raka, padahal Dimas kan lagi pengen serius.
“Ka, serius donk,” bentak Dimas nggak tahan dengan tingkah sahabatnya itu. Raka menghentikan tawanya mendadak, tapi beberapa detik kemudian tawanya meledak lagi yang membikin kamarnya jadi riuh. Musik wetslife-nya jadi kalah rame. Dengan jengkel Dimas keluar dari kamar Raka dan meninggalkannya sendiri dengan kucingnya Roki yang lagi makan siang.



Dimas nyesel banget, dia nyaksiin kekecewaan terpancar dari wajahnya kemarin, dan Dimas merasa bersalah, rasanya belum pernah hingap di hatinya. Dan setelah Raka mendengar keluh kesahnya, eh Raka malah ngakak.
“Loe jatuh cinta coy,” dengan tawa yang tersisa dan kalimat yang terputus-putus itu terdengar setelah beberapa saat Dimas termangu.
“Jangan terlalu cepat nyimpulin donk,” ralat Dimas.
Raka duduk di sebelah Dimas, sambil memaminkan bola basket hingga terdengar bunyi lantunan yang teratur.
“Coba dengarin gue, loe terkenal di SMU, vokalis band kita dan loe punya kelebihan. Dan loe tau sendiri kan?” tanya Raka, tapi lebih mirip memberi tau.

“Rasanya nggak heran kan kalo banyak girl yang pengen dapat perhatian dari loe. Dan dewi fortuna masih ngekor di belakang loe, karena walaupun loe orangnya dingin banget, para fans loe penasaran dan nggak menjauhin loe,” sambung Raka dengan celotehnya panjang lebar.
“Selama ini memang gue dingin sama cewek manapun, kejaran cewek bukannya membuka sifat gue yang tertutup, malah tambah gue kunci,” tutur Dimas.
Kembali cewek cantik itu melintas di otaknya. Cinta? rasanya aneh.


“Hai boleh gue duduk di sini? tanya Dimas.
Cewek itu mengangguk, dan pesonanya masih mampu membuat dada Dimas bergetar. Dari balik pintu Raka mengacungkan jempolnya dan lalu pergi.
“Lagi nggak ada keperluan?” tanya cewek itu menyindir.
“Sebenarnya sih ada,” jawan Dimas.
“Hemm?” matanya yang menyinmpan tanda tanya itu kembali menatapnya, Dimas seneng banget nikmatin keteduhannya.
“Nemenin kamu,” ujar Dimas.
Rona merah bertengger di pipinya, dan Dimas melawan kebekuan hatinya, semuanya mencair menghangatkan perasaan Dimas yang berbunca.

“Nama gue Dimas, loe dah tau kan? kalau nama loe siapa?” tanya Dimas dengan ngulurin tangannya. Cewek itu menerima uluran tangan Dimas.
“Senja,” jawan cewek itu.
Kali ini mata itu tertunduk, menanti kalimat Dimas selanjutnya.
“Senja, gue lah yang akan nemanin loe untuk hari-hari selanjutnya,” batin Dimas.
Fans-fans Dimas yang lain menatap iri pada Senja.

So Unbelievable


PAGI yang cerah di SMA Grindy. Para siswa tampak sedang berkeliaran di koridor sekolah. Seorang siswi baru yang hendak melangkahkan kaki di pintu gerbang sekolah itu ditertawakan oleh sejumlah siswa.

‘’Mau kemana, Neng? Retsleting rok kamu belum dipasang tuh!’’ Goda salah seorang cowok dekil berambut gondrong yang sedang duduk-duduk di bawah pohon beringin bersama teman-temannya. Nama cowok itu Gerry. Siswi baru itu hanya tersenyum.
Di salah satu ruangan kelas XI, tepatnya XI A3 sedang heboh. Meskipun hari itu ada ulangan Kimia, tapi yang namanya anak-anak kelas itu paling tak tahan bila ada sesuatu hal yang penting. Penting? Ya, karena hari ini ada seorang siswi baru yang akan menjadi teman sekelas mereka. Bu Caroline, wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum baru saja mengantarkan gadis berambut panjang yang ditertawakan tadi itu ke kelas.

‘’Nah, siswa-siswi sekalian, pagi ini kita kedatangan seorang siswi baru. Silakan kalian berkenalan dengannya. Ibu harap kalian bisa menjadi teman yang baik. Permisi, Bu,’’ Bu Caroline mohon pamit pada Bu Elsa, guru kimia yang baru saja akan memulai ulangan.

‘’Eh, kamu Neng yang tadi, kan ?’’ Tanya salah seorang siswa.

Cewek itu tersenyum sambil mengangguk.
‘’Ada cabe di gigi kamu tuh!’’ Serunya disambut koor para siswa.

‘Nama saya bukan Neng, tapi nama saya Cinta B Novitasari,’’
‘’Kalau boleh tahu huruf B nya itu apa?’’ Tanya bu Elsa.
‘’Bebek...!’’ Potong cowok tadi, disambut tawa anak-anak sekelas.

‘’Bukan, huruf B itu adalah nama ayah saya,’’ jelas cewek yang bernama Cinta itu.
‘’Sudah, sudah! Jangan ada yang tertawa lagi. Waktu kita sudah habis lima menit, jadi sekarang siapkan alat-alat tulis dan kalkulator serta simpan semua buku kalian dan taruh tasnya di depan kelas. Lembar soal dan jawabannya akan Ibu berikan,’’ ucap Bu Elsa tegas.
‘’Cinta, apa kamu sudah siap ikut ulangan hari ini?’’ tanya Bu Elsa. Cinta mengangguk.
‘’Kalau begitu kamu boleh mengerjakannya di bangku kosong sebelah sana,’’ tunjuk Bu Elsa, mempersilakan Cinta mengikuti ulangan.


Bel pulang berbunyi. Semua anak sudah membubarkan diri. Kecuali Cinta dan salah seorang siswa yang duduk tepat di barisan belakangnya.
‘’Cinta, kamu belum pulang?’’ Tanya cowok itu, lalu menghampiri Cinta.
‘’Cinta menunduk, aku malas pulang, rasanya pengen disini aja,’’ jawab Cinta lirih.
‘’Loh, kenapa?’’

Cinta menggeleng, kalau kamu tahu, pasti kamu akan menjauhiku, sama dengan teman-teman di sekolahku yang dulu,’’
‘’Memang ada apa sih? Kalau kamu ada masalah, cerita aja,’’ ujar cowok itu. Oh ya, kita belum kenalan, namaku Davi. Cowok itu mengulurkan tangan. Cinta menjabat tangannya. Dan akhirnya mengalirlah cerita itu.
‘’Temen-temen dulu suka bilang aku ini cewek aneh, semuanya bilang begitu. Mereka menjauhi aku, mereka suka menganggap aku nggak ada,’’
‘’Tapi bagiku kamu nggak aneh,’’ ujar Davi.
‘’So.....?’’ Tanya Cinta.

‘’Kamu tuh kayaknya orang yang asik diajak ngobrol dan sangat supel,’’ jawab Davi lagi.
‘’Tapi kamu pasti akan sama dengan mereka setelah kamu tahu kalau.....,’’
‘’Tahu apa?’’ Tanya Davi. Tahu, apa tempe ?
Cinta tertawa, lalu menjawab, dua-duanya.
‘’Ah, Cinta...., aku serius niiih....,’’
‘’Aku dua rius, malah!’’ Jawab Cinta
‘’Ih, kamu ngegemesin deh!’’
‘’Emang iya!’’ jawab Cinta singkat.

‘’So, apa nih, yang mau kamu ceritakan?’’ Tanya Davi. Cinta kembali tertunduk, membayangkan sesuatu yang membuatnya ingin sedih, marah, dan kesal. Semua bercampur menjadi satu.
Ya sudah, besok-besok saja. Kayaknya kamu belum siap cerita sekarang, Davi melirik jam tangannya, sudah jam setengah tiga nih. Pulang yuk! Davi meraih lengan Cinta dan mereka bersama-sama keluar kelas menuju parkiran sepeda motor.
Eh ya, mau aku antar, nggak?’’ Davi menawarkan.

Cinta tersenyum tipis dan mengiyakan. Diapun diantar sampai ke rumahnya.

Cinta masuk ke rumahnya. Dan dia sangat kaget ketika kejadian yang sangat tidak disukainya terulang kembali.
‘’Pokoknya mama mau kita pisah,’’ seru ibu Cinta sambil terisak-isak, dan ayahnya pun tak kalah egois dan hanya berteriak mengelak. Mereka berdua tak sadar bahwa Cinta, anak tunggal mereka telah berdiri di hadapan mereka. Sesaat kemudian ayah dan ibu Cinta menoleh, mereka melihat putrinya langsung berlari ke kamarnya di lantai atas.


Malam harinya.
Dear diary,
Hari ini so unbelievable banget deh. Soalnya baru kali ini ada cowok yang bilang kalo aku nggak aneh. Malahan dia bilang aku orangnya asik diajak ngobrol. Tapi apa iya ya? Duuuh...., kok aku jadi mikirin dia sih? Emangnya apanya sih yang spesial?
Btw diary,
Mama papa sekarang berantem lagi. Aku sediiih banget. Kenapa mama papa tiap hari harus kayak gini.
Dear diary,
Kapan ya, mama papa bisa akur kayak dulu lagi?
Cinta menutup diarynya. Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Iapun terlelap dalam mimpi.


‘’Friends! Lihat nih, ada berita heboh..!’’ seru Bella.
‘’Apaan?’’ Anak-anak serempak mengerubungi Bella.

‘’ Ada komet tadi malam? Atau ada temuan planet baru? Atau ada yang berhasil menemukan obat kanker? Atau ada senyawa baru yang berhasil ditemukan oleh Profesor McDonald?’’ Tanya salah seorang siswa berkacamata, namanyapun kebetulan Donald, yang kadang-kadang dipanggil donat dan terkadang dipanggil Donal.
‘’Bukaaan!’’ Seru Bella. Nih, dia menyodorkan koran itu pada Donald.

Donald buru-buru membacanya, tersangka BX diamankan oleh polisi karena terkait kasus korupsi yang dilakukannya senilai Rp187 miliar, Donald terpekik sambil mengatakan, banyak banget! Lalu Donald berpikir, sambil bertanya, emang BX ini siapa sih?

‘’Yaaah, siapa lagi kalau bukan bokapnya si Cinta,’’ ketus Bella.

Sebagian di antara mereka berbisik-bisik satu sama lain, dan yang lainnya bergumam tak percaya. Davi, satu-satunya teman Cintapun tidak mau begitu saja percaya. Cinta yang barusan datang dilirik oleh teman-teman sekelasnya dengan tatapan yang tajam. Mereka menatap Cinta dengan sinis.

‘’Aku nggak nyangka! Ternyata si cewek aneh ini adalah anak koruptor!’’ Seru Bella keras-keras. Dan yang paling mengesalkan, wali kelas kita, Bu Mileva juga terancam dipecat dari sekolah gara-gara cewek aneh ini juga!
‘’Iya, tuh cewek ngapain sih pakai bilang yang enggak-enggak ke Kepsek soal wali kelas kita. Emangnya dia itu tahu apa? baru juga sepekan sekolah di sini, sudah sok banget gayanya!’’ Celetuk seorang siswi, entah siapa.
Cinta tak kuasa menahan air matanya. Diapun pergi keluar kelas dan menangis sejadi-jadinya.

***

Bel masuk berbunyi dan dilanjutkan pelajaran Bahasa Indonesia dengan wali kelas mereka.
‘’Selamat pagi semuanya!’’ Sapa Bu Mileva.
‘’Pagi....eh, bukannya Ibu mau di.....,’’
‘’Tidak, anak-anakku! Ibu dibebaskan dari segala tuduhan. Ibu tidak jadi dipecat. Kalian tahu ini karena siapa?’’ tanya Bu Mileva. Anak-anak menggeleng.
‘’Karena Cinta, dia yang menjadi saksi dihadapan Pak Kepala Sekolah dan menerangkan bahwa Ibu tidak bersalah,’’ jelasnya.

‘’Cinta?’’ tanya murid-murid.
‘’Jadi kemarin itu, dia..?’’ Bella tergagap.
Bu Mileva mengangguk. ‘’Ibu pantas berterimakasih pada Cinta, yang mau menjadi saksi Ibu, kalau tak ada dia, entahlah,’’ ujar Bu Mileva pelan.
‘’Cinta? Jadi dia..?’’Bella terhenyak, kini dia tahu segi positif dari Cinta. Bella yang dulunya selalu menilai orang dari luarnya saja kini berubah. Lalu tanpa malu ia menghampiri Cinta dan meminta maaf. Begitu pula diikuti anak-anak lain.

‘’Cin, maafin kami ya?’’
‘’Sudahlah, aku sudah maafin kalian kok, lagian yang penting sekarang Bu Mileva sama-sama kita lagi kan ?’’
‘’Makasih ya Cin, kamu baik banget,’’ Bella menunduk malu.
Cinta merangkulnya.

‘’ Kalau kita jadi sahabat, kamu mau kan ?’’ Tanya Cinta.
‘’Mau dong,’’ jawab Bella, disambut senyum anak-anak kelas XI A 3.
Cinta bahagia sekali hari ini. Ditambah lagi dia melihat Davi yang ikut senang. Dan yang paling tak terduga adalah saat istirahat, Cinta ditembak Davi! Cowok itu ingin Cinta menjadi Sweetheartnya. Dan tentu saja, Cinta mau menjadi gebetan Davi. Dan tentu saja hari ini menjadi hari yang so unbelievable banget bagi Cinta. Karena ternyata ia memang bukan cewek aneh seperti yang dikatakan teman-temannya dulu.

                                                Cinta Lama Bersemi Kembali


’Permisi ...’’‘’Ya, Sebentar...’’‘’Benar ini rumah Lara?’’‘’Ya,’’‘’Laranya ada..?’’‘’Saya sendiri,’’‘’Selamat ya, kamu terpilih untuk ikut acara Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK),’’‘’Yang benar?’’‘’Beneran?’’‘’Sekarang kamu cerita deh,kamu mau balikan sama siapa?’’‘’Aku pernah punya mantan,namanya Arie,aku udah putus sama dia dari 3 tahun yang lalu,aku kenal dia lewat dunia maya,terus kita ketemuan dan sering jalan bareng, satu bulan setelah itu akhirnya kita jadian, tidak tahu kenapa, 6 bulan kemudian dia minta putus tanpa alasan yang jelas dan aku juga terima keputusannya itu. Setelah jomblo hampir 3 tahun, aku sadar ternyata aku tak bisa lupakan dia dan aku terlalu sayang sama dia.’’O..., gitu ceritanya, sekarang kita bakalan bantuin kamu buat ketemuan sama Arie,sekarang kamu kasih tau nomor hape arie atau telepon rumahnya,setelah itu kita akan bikinin kamu janji ketemuan sama dia.’’‘’Ya deh ntar aku kasih tau.’’‘’Dan sekarang kamu mesti bikin pesat lewat video buat kita tunjukkan sama Arie.”‘’Ok deh aku bakalan nyamar jadi setan seperti hal-hal yang dia sukai.’’

‘’ Ughhh........ Hari ini aku lelah banget, tadi udah keliling-keliling pakai baju penyihir buat minta dukungan orang-orang’’ceritaku pada Cha-cha sahabat dekatku.‘’Mau ikut kampanye neng, lagian mana ada yang dukung kampanye lu kalau kostumnya aja kostum peyihir.’’‘’ Enak aja, siapa juga yang mau kampanye? Lara mau balikan sama Arie, makanya bikin pesawat lewat video seperti itu. Kamu gak lupa dong sama hobynya itu.’’‘’Gila aja kamu masih ingat sama Arie,diakan lagi di Bandung? lagian belum tentu dia ingat sama kamu? yang diingatannya itukan cuma ada Fanny.’’Tutur Cha-cha mencoba menggagalkan niatku.Malam itu aku dan Cha-cha berdebat hebat, namun niatku sudahbulat dan tidak bisa lagi diganggu gugat. Pokoknya aku harus balikan sama Arie.

8 Januari 2008Siang yang panas ternyata tidak menyurutkan semangat Alfin pembawa acara CLBK untuk ketemu Arie dipusat kota tempat mereka janjian ketemuan. Sementara itu aku hanya bisa menyaksikan mereka dari mobil kru CLBK.‘’ Hai kamu Arie ya?’’‘’Iya, kamu pasti Alfin kan?’’‘’Benar banget, aku Alfin dari relity show CLBK,kami lagi bantuin seseorang untuk ketemu lagi sama kamu.’’‘’siapa?’’‘’Kamu masih ingat sama lara kan’’‘’Lara?’’ Ingat, memangnya kenapa?’’‘’Dia ingin ketemu kamu lagi dan sini deh aku tunjukin sesuatu.’’‘’Apaan tuh?’’‘’Ini pesan video dari Lara.’’‘’Loh mana laranya?’’ ‘’Itu yang pakai jubah hitam.’’‘’Ha..., beneran itu lara?’’‘’Iya, kamu sudah lihatkan bagaimana usaha dia buat ketemu kamu lagi,sekarang kamu maukan ketemuan sama dia lagi?’’‘’Kapan?’’‘’Besok.’’‘’Ya sudah’’Wah, seneng deh Arie mau ketemu aku lagi,hari ini aku mesti ke salon nyiapin semuanya,’’ aku mesti terlihat sempurna didepan Arie.’’

9 Januari 2008Pagi ini cerah banget secerah hatiku yang bakalan ketemu lagi dengan Arie.‘’Mama,Lara pergi dulu ya...!’’‘’Mau kemana sayang?”‘’Mau ketemu Arie, Ma.’’‘’Lho bukannya dia lagi di Bandung?’’‘’Enggak kok, dia disini, kan lagi liburan semester.’’‘’Memangnya kamu udah janjian sama dia?’’‘’udah dong!’’‘’ya sudah, hati-hati ya...!’’Cuaca memang betul-betul mendukung hari ini, akupun terus melangkahkan kaki dan hatiku menuju tempat yang sudah ditentukan pihak CLBK,aku nggak perlu waktu lama untuk menunggu kedatangan Arie, 15 menit duduk disana akupun kembali melihat sosok Arie, setelah 3 tahun tidak aku temui. Dia betul-betul terlihat tampan.
‘’Hai’’ sapanya sembari tersenyum.‘’Hai juga’’ jawabku tak lupa dengan senyum termanisku‘’Kamu tambah cantik deh!’’‘’Makasih’’‘’Sudah lama ya nunggunya?’’‘’Baru 15 menit kok!’’‘’Katanya mau ngomong,ngomongin apa’’‘’Nggak ada cuma kangen saja. Gimana kabar kamu setelah 3 tahun tidak bertemu’’‘’Ya gini-gini saja, palingan aku jadi terlihat lebih kurus, kan disana aku kos.’’‘’Memangnya disana nggak ada yang perhatiin kamu ya’’‘’Ya jelas gitu...’’‘’Pacar kamu?’’‘’Aku nggak pengen pacaran dulu’’‘’Kenapa?’’‘’Ya,belum pengen saja.’’‘’Jalan-jalan yuk’’‘’Kemana?’’‘’Kemana saja’’Siang itu aku betul-betul senang.Rasanya dunia cuma milik ku seorang, Aku dan Arie melakukan banyak kegiatan yang menyenangkan, namun tiba-tiba semua itu terusik.
Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku kembali melihat sosok Fanny.‘’Hai,Rie...’’‘’Fanny?’’‘’Iya aku, kaget ya ngeliat aku disini?? kamu apa kabar?’’‘’Baik kok, gimana denganmu??’’‘’Aku juga baik,aku yakin kamu pasti bakalan balik ke Pekanbaru dan nepati janji kamu buat nemuin aku lagi.’’‘’Aku memang pasti balik’’‘’Lho,kenapa cewek ini ada disini?’’‘’Aku memang lagi jalan sama Lara disini!’’‘’Jadi kamu masih sering ketemu cewek ini?’’‘’Apa yang salah dengan Lara?’’‘’Ya salah dong! kamu itukan punya aku dan cuma aku yang boleh jalan sama kamu!’’‘’Siapa bilang?’’ ujarku tiba-tiba setelah mendengar percakapan nggak penting dari Fanny,yang juga mantan Arie namun sebelum aku ketemu dan jadian dengan arie.‘’Eh...! Aku nggak ngomong sama kamu,jadi nggak usah ikut campur urusan orang lain!” sanggahnya dengan ekspresi marah.‘’Hai non!! yang mengganggu itu aku atau kamu!!!’’ucapku masih dengan sikap wajar.
‘’Kamu itu cewek nggak tahu diri!’’ teriaknya sembari melayangkan sebuah tamparan ke arah pipiku. Namun belum sempat tangan itu menyentuh pipiku, Arie telah menahan laju tangannya.‘’Kamu nggak usah ngerusak suasana deh!’’ujar Arie yang mulai kelihatan kesal.‘’Kamu bilang aku merusak suasana? nggak salah?” teriaknya mulai panas.‘’Jadi kamu maunya apa?’’ ujarku nggak kalah kesalnya dari Arie.‘’aku mau kamu jangan ganggu Arie lagi!’’ ujarnya dengan nada yang sangat tinggi.‘’Kamu nggak usah ngelarang siapapun untuk dekat denganku,karena itu hak aku untuk nentuin siapa aja yang boleh berteman denganku,’’tegas Ariel.‘’Jadi kamu nggak suka aku ngelarang cewek ini dekat-dekan sama kamu?? sekarang kita pilih jalan mudah aja,kamu pilih aku atau cewek nggak tau diri ini!’’ ujar Fanny dengan nada emosi.‘’Akupun menjadi serba salah, karna aku tahu dari dulu Arie nggak pernah bisa ngelupain Fanny. Keadaan ini nggak bisa lagi dihindari.
Arie terdiam dan Fanny masih saja berdiri dengan angkuhnya. Sementara itu akupun tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, hingga aku memutuskan untuk keluar dari masalah yang nggak pernah terfikirkanku sebelumnya’’.‘’Mungkin emang nggak ada gunanya aku disini. Sebaiknya aku pulang’’ tuturku memecah keheningan itu.‘’Seharusnya dari tadi kamu sadar diri’’ujar Fanny padaku. Dan akhirnya akupun beranjak dari tempat itu, hingga tiba-tibaArie mengejarku dan menggenggam tanganku sambil berbisik ‘’aku lebih memilih kamu,karena aku tau aku sayang kamu.’’


Mimpi Buruk Akhir dari Persahabatan Ku
oleh: Khy Rollink

Cerita Pendek tentang PersahabatanMemiliki sahabat memang indah apalagi sahabat yang care and well come dengan kita serasa dunia ini tiada akhirnya. Begitulah yang aku rasakan semasa SMP aku dan dia dulu. Kemana-mana kita selalu bersama dapat dikatakan "nggak ada lo gak rame", bercanda gurau, dan merasakan sedih bersama. Moment itu semakin menguatkan kita sampai kelas 3.

Tapi tidak tau kenapa aku dan dia mulai menjauh, dia mulai memandang aku dengan materi. Dan mulailah dia menghinaku. Begitu perih beban yang ku rasakan, terngiang di benakku "inikah artinya sahabat yang kita bina selama 9 tahun?" dia menganggap aku sampah yang tidak layak pakai. Sejak itulah aku mulai belajar membencinya, mulai tumbuh benih kebencian terhadapnya. Aku tau aku tak sekaya dia, tapi tolong jangan memandang aku dengan sebelah mata! Detik-detik perpisahan kelas 3 kami rasakan. Ah, perasaan ku biasa saja, justu aku senang sekali. Puji syukur aku kepada Allah.

Tapi, what?? Akhirnya aku mimpi buruk lagi, aku satu sekolah lagi sama dia! Betapa jengkelnya hati ini melihat wajahnya seakan timbul rasa benciku. Ya sudahlah, jalani aja. Toh, aku dan dia berbeda kelas. Sudah hampir satu semester aku dan dia dipersatukan dalam satu sekolah yang sama, kami bagaikan orang asing. Ketika bertatapanpun tidak tersenyum, ketika ketemu tidak saling bersapaan justru malah menghindar. Terlebih sakit sekali hatiku ini saat aku hendak menyebrang ke sekolah tiba-tiba dia lewat dihadapanku dengan mionya. Jangankan untuk menegur, membalikkan arah mukanya pun tidak.

Oh Tuhan!!! Sungguh aku tidak sanggup! Tiada berbuah manis akhir persahabatan kami ini. Apa salah aku? Salahkah aku menjauhinya saat dia menghinaku? Ya Allah, berikanlah kami titik terangnya ya Allah. Berikanlah kami petunjukMu yang bisa membuat kami mengintrospeksi diri. Jika Engkau berkehendak satukan kami kembali ya Allah walaupun tidak sedekat dulu. Kabulkanlah ya Allah.

0 komentar:

Posting Komentar

Keluarga DEWANATA

Keluarga DEWANATA

About

Anak TKJ Loro

Anak TKJ Loro

MOS TKJ LORO

MOS TKJ LORO

ya'jud dan ma'jud

SELAMAT DATANG DI WEB JULIANA

Popular Posts

Pengikut