Simposium dan Seminar Nasional Hasil–Hasil Penelitian dan Pengkajian di Hotel Jayakarta Daira diikuti ratusan peserta dan pemakalah dari berbagai daerah di tanah air. Acara berlangsung dua hari, dibuka oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kaban Litbang) Sumsel, Dr Ekowati Retnaningsih SKM MKes, kemarin (13/12).
Hadir dalam seminar yang mengangkat tema “Hasil-hasil riset untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat” itu di antaranya Prof Dr Ir Benyamin Lakitan (Deputi bidang Kelembagan IPTEK Kemenristek), Dr Ir Sujana Royat (deputi Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkokesra) dan Dr Atikah Adyas MDM (Sekretaris Dewan SJSN RI).
Prof Benyamin Lakitan menjelaskan, tujuan akhir Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II adalah mewujudkan Indonesia yang sejahtera, demokratis dan berkeadilan. Salah satu faktor agar itu terwujud yakni menciptakan ketahanan pangan. Selain swasembada pangan, perlu dipikirkan pula nasib dan kesejahteraan para petani.
“Kita selalu mendengar Indonesia swasembada beras. Tapi coba bandingkan jumlah ekspor dengan impor beras, ada yang ditutup-tutupi. Petani kita saat ini tidak lebih sejahtera dibandingkan dengan kondisi tahun 2007 lalu,” cetusnya. Karena kesejahteraan yang tidak terjamin, saat ini tersisa 39,88 persen masyarakat yang bergerak di sektor pertanian dari semua angkatan kerja.
Selebihnya sudah banting setir mencari profesi lain yang lebih menjanjikan. Dikatakan Benyamin, kalau kondisi ini tidak akan bisa menciptakan ketahanan pangan. Persoalan produksi pangan yakni konversi, degradasi dan fragmentasi lahan pertanian. Lalu kehilangan hasil, ketersediaan air yang kurang dan ketidaksejahteraan petani. Persoalan konsumsi pangan yakni adanya ketergantungan pada beras, impor dan keamanan pangan.
Sedang persoalan teknologi yakni senjang adopsi, orientasi pengembangan dan kurangnya dukungan kebijakan. “Untuk mengatasi berbagai masalah ini, sudah waktunya memerankan teknologi modern,” ucapnya. Ada tiga unsur yang memegang peranan penting dalam sistem inovasi. Yakni pengembang dan pengguna teknologi serta fasilitator/intermediator/regulator.
Sebelumnya, Kaban Litbang Sumsel, Dr Ekowati Retnaningsih SKM MKes mengatakan, dalam symposium dan seminar nasional selama dua hari tersebut akan dibahas empat topik utama materi seminar. Yakni bidang pangan ada 87 makalah, ekonomi dan kemiskinan ada 19 judul makalah, kesehatan dan obat-obatan ada 26 judul makalah, otonomi daerah ada 11 judul makalah. “Total ada 132 makalah yang kita terima dari seluruh Indonesia,”ujarnya.
Ditambahkannya, hasil penelitian para akademisi harus dipublikasikan dan bermanfaat untuk rakyat. Masyarakat sendiri harus bisa mengaplikasikan masing-masing hasil penelitian secara tepat agar berguna. Menindaklanjuti Inpres No 1 Tahun 2010, Sumsel telah melaunching SIDa (sistem inovasi daerah) pada 4 November lalu. “Melalui SIDa, kita berharap ada sinergisitas dan sinkronisasi antara pemerintah dan pihak terkait dalam menerapkan dan mengembangkan hasil-hasil penelitian,”tuturnya.
Setelah seminar dan tanya jawab, dilakukan pembahasan hasil-hasil penelitian dari para pemakalah. Para peserta dibagi dalam empat kelompok. Misalnya, Effendy TA, yang membawakan judul dalam penelitian "Pengujian beberapa jenis tanaman sebagai sumber atraktan lalat buah (Bactrocera spp) (Diptera:Tephritidae) pada tanaman cabai (Capsicum Annuum L)" oleh Effendy, R Rani dan S Samad. Katanya, penelitian yang dilakukan tersebut sebagai antisipasi telur lalat yang ada di buah.
Katanya, bila telur lalat ada dibuah, maka bisa merusak buah. Nah, untuk penelitian yang ia lakukan, pihaknya mencarikan atraktan agar lalat jantan tertarik. Bila lalat jantan sudah tertangkap, maka lalat bertina tidak memiliki pasangan untuk bisa berpopulasi. "Jadi, andaikata lalat betina meletakkan buah pada telur, maka akan steril karena tidak dibuahi oleh lalat jantan yang telah ditangkap, sehingga buah yang tumbuh tidak rusak dan akan terselamatkan," ujar Effendy. Katanya, dari bahan tersebut diambil ekstratnya dari hasil penyulingan. Caranya, dengan diteteskan 1 ml saja di kapas yang kemudian diletakkan dalam botol. Nantinya, lalat jantan akan masuk kedalam perangkan yang sebelumnya bisa diisikan deterjen sehingga cepat mati. "Bau dari bahan ini, khusus untuk lalat buah jantan, bukan betina," ungkapnya lagi.
Katanya, dengan tertangkapnya lalat jantan tersebut, maka lalat betina tidak memiliki pasangan untuk menelurkan lalat betina. Soal berapa radius jarak bau, ia mengungkapkan bisa sejauh 2 Km. "Tapi juga tergantung dari angin berhembus, bisa juga hanya mencapai 200 meter, bisa juga 2 km. Lalat itu, nantinya akan menelusuri bau dari bahan yang dibuat," bebernya.
Ia juga menjelaskan, sekitar 400 spesies genus Bactrocera menyerang 150 spesies tanaman buah dan sayur. Pada tanaman buah Bactrocera, dapat menimbulkan kerusakan 100 persen, kemudian untuk cabai dapat merusak 70 persen. "Di Sumsel sendiri ada spesies sebagai hama penting, yakni, B Dorsalis, B Cucurbitae, B Albistrigatus, B Umbrosus dan B Caudatus," bebernya.
Dalam penelitian yang dilakukan, pihaknya melakuakn di pelabuhan dalam Pemulutan karena masyarakatnya banyak yang menanam cabai, kemudian setiap lokasi dipilih luas lahan minimal 0,5 ha dan dengan umur tanaman sekitar 2,5 bulan.
"Dari hasil pengamatan yang dilakukan, ada dua spesies yang ditangkap, yakni B Dorsalis Hend dan B Umbrosus (Fab). Kemudian tanaman cengkeh merupakan sumber atraktan alami yang paling efektif dan B Dorsalis Hend merupakan tanam utama dalam tanaman cabai," tukasnya.


0 komentar:
Posting Komentar